kojtmxascx1yql3uuswi

Global Intercultural Youth Exchange 2017 (Foto:Dok. GP Ansor)
Gerakan Pemuda (GP) Ansor menggelar Global Intercultural Youth Exchange (GIYE) 2017 atau persahabatan antarpemuda dan pelajar dunia. Kegiatan ini diikuti oleh 82 mahasiswa dan pemuda dari 23 negara asing ditambah 25 mahasiswa dan pemuda dari Indonesia.
Dalam rangkaian agendanya yang sudah memasuki hari kedua, mereka mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Kahfi Somolangu, Kebumen, Jawa Tengah.
Ponpes Al-Kahfi Somolangu merupakan salah satu ponpes tertua di Asia Tenggara. Ponpes ini didirikan oleh Syaikh as-Sayid Abdul Kahfi al-Hasani pada 25 Sya’ban 879 H atau 4 Januari 1475 M.
Rombongan peserta GIYE tiba di Ponpes Al-Kahfi Somolangu pada Jumat (19/5) dini hari. Setelah cukup istirahat, sarapan dan diterima oleh pengasuh ponpes, mereka diperkenalkan dengan seputar pesantren. Mulai dari sejarah dan perkembangan, situs dan prasasti, serta berinteraksi langsung dengan para santri dan masyarakat sekitar Ponpes.
“Saya sangat senang mengikuti acara ini. Karena saya bisa bertemu dan mengenal dunia pesantren. Perempuannya memakai hijab. Orangnya ramah-ramah”, ujar Ana Cristina Valdes Cordovez, salah satu pelajar delegasi dari Ecuador, berdasarkan rilis yang diterima kumparan (kumparan.com).
Ana tampak antusias dan senang mengenakan hijab, souvenir dari ponpes. Ia gunakan untuk berfoto ria di lingkungan pesantren. “Saya punya thesis bahwa hijab tidak identik dengan teroris,” ujar Ana, yang berkeyakinan agama katolik.
Sementara Xander Laurence Victor Somers, delegasi dari Belanda, mengatakan bahwa acara ini sangat memotivasinya untuk mengenal lebih mendalam tentang Islam dan budaya Indonesia, serta menambah networkingantar-pemuda dari berbagai negara. “Kegiatan ini memberikan banyak hal baru, dan acaranya seru,” ujar Xander.
Ngaji berikutnya akan dilakukan pada sore hari yang dikemas dalam bentuk seminar dan talkshowdengan tema Islam dan Budaya Nusantara. Narasumber yang akan mengisi acara ini diantaranya tokoh, ulama, akademsi, dan budayawan, yakni  Habib Faishol, Suratno, Romo Donny Satryowibowo, dan Kiai Nurul Huda.
Pada malam harinya, peserta akan disuguhi Gala Dinner ala Santri. “Para peserta diajak makan bareng dengan para santri, dimana makan dalam satu penampan, duduk lesehan beralaskan tiker, makan langsung pakai tangan tanpa sendok. Inilah wujud kesederhaan dan kebersamaan yang membudaya di pesantren,” kata Hasyim Habibi, ketua pelaksana GIYE 2017 GP Ansor.
Intercultural Night Show juga menjadi ajang bagi para peserta untuk menampilkan seni dan budaya negara masing-masing.
M. Fatkhul Maskur, Wasekjend GP Ansor, mengatakan bahwa pesantren adalah pusat pendidikan dan pusat dakwah, yang menjadi bagian terpenting dari Nahdlatul Ulama yang mengusung dan mempromosikan Islam Nusantara, Islam  yang menyatu dengan budaya Nusantara, Islam Rahmatan Lil’alamin.
“Kegiatan ini tidak sekedar mengenalkan budaya pesantren dan nilai-nilai Islam Nusantara, tetapi juga mengajak peserta terlibat dan merasakan langsung bagaimana nilai-nilai Isalm Nusantara itu tumbuh berkembang di dunia pesantren. Mereka diharapkan lebih mengenal wajah Islam yang toleran dan membawa kedamaian”, ujarnya.