akb5grsvshgwfmccyvi2

Infografis Kronik Vibrator (Foto:Bagus Permadi/kumparan)
Lebih dari 100 tahun yang lalu vibrator ditemukan.
Perempuan-perempuan di era Victoria (1837-1901) lekat dengan korset, sofa, dan menjahit. Hasrat seksual dianggap bukan milik perempuan.
Banyak perempuan kala itu mengalami kegelisahan, insomnia, mudah marah, kegugupan, fantasi erotis, dan perasaan-perasaan yang kemudian disebut sebagai sindrom "gangguan saraf". Untuk mengatasi gangguan saraf itu, para dokter mengatasinya dengan cara pemijatan.
Para dokter melakukan pemijatan di sekitar panggul dan vagina klien --yang umumnya adalah kalangan bangsawan, hingga mereka mengalami hysteria paroxysm. Kini kita mengenalnya sebagai orgasme.
Kelelahan yang dialami oleh para dokter kala itu menemui solusinya ketika Joseph Mortimer Granville menciptakan vibrator elektrik. Vibrator tidak dianggap memiliki fungsi seksual karena hubungan seksual adalah persoalan penetrasi semata. Namun, keraguan akan fungsi medis dari vibrator muncul dari Granville sendiri.
"Saya menghindari, dan seterusnya menghindari, mengobati perempuan yang mengalami gangguan saraf. Saya tidak ingin tertipu dan menyesatkan yang lain karena perilaku-perilaku aneh yang dilakukan perempuan karena 'gangguan saraf' atau hanya sekadar berpura-pura mengalami penyakit tersebut," tulis Granville pada 1883.
Hingga tahun 1910-an, vibrator masih dianggap sebagai pengobatan medis, dan frustasi seksual yang dialami perempuan adalah penyakit. Pandangan tersebut berubah ketika muncul iklan yang melekatkan vibrator dengan hal-hal yang berbau seks pada 1920-an.
Akhir tahun 1920-an dikenal sebagai awal mula revolusi seksual seiring berkembangnya ilmu pengetahuan --termasuk menyoal seksualitas perempuan. Namun sejak tahun itu pula iklan dan segala rupa soal vibrator tampak lenyap dari permukaan.
Pada 1980-an industri alat bantu seks benar-benar berkembang.
Sekarang, vibrator dikenal lekat sebagai benda yang erotis. Penggunaan vibrator pun makin luas --meski mungkin dianggap tabu, dengan teknologi yang semakin berkembang.

pqnm5aqsxctccok8yhzt

Infografis Kronik Vibrator (Foto:Bagus Permadi/kumparan)