Sepotong Kisah Mistis di Bukit Soeharto, Calon Ibu Kota Indonesia

10 Mei 2019 21:13 WIB
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi berada di tengah hutan Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berada di tengah hutan Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Taman Hutan Raya Bukit Soeharto di Kalimantan Timur diajukan sebagai salah satu alternatif solusi pengganti Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Dengan letak yang strategis, wilayah yang luas dan akses transportasi yang memadai, Bukit Soeharto dinilai mampu memenuhi kriteria sebagai sebuah ibu kota.
ADVERTISEMENT
Selasa, 7 Mei 2019 lalu, Presiden Jokowi bahkan sempat melakukan peninjauan dengan pejabat-pejabat terkait. Meski begitu, hingga saat ini, belum ada keputusan lebih lanjut dari pemerintah terkait pemindahan ibu kota.
Presiden Jokowi tinjau lokasi alternatif ibu kota di Bukit Soeharto, Jalan Tol Balikpapan-Samarinda, Kutai Kartanegara, Kalimantan TImur. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Rusman
Taman Hutan Raya Bukit Soeharto dijadikan sebagai kawasan hutan lindung untuk menjaga kelestarian, menjamin pemanfaatan potensi kawasan, memelihara tumbuhan dan satwa alami, penyeimbang iklim, serta sebagai kawasan resapan air.
Namun, di luar kegunaannya dalam menjaga kelestarian flora dan fauna Indonesia di Kalimantan, nyatanya Bukit Soeharto juga kerap dipenuhi cerita horor dan mistis. Seperti kisah para romusha yang bekerja pada zaman penjajahan Jepang atau kecelakaan lalu lintas yang terjadi di sekitar kawasannya.
Berangkat dari kisah-kisah mistis ini, kumparan menemukan seorang laki-laki yang pernah merasakan sendiri pengalaman mistis dan menyeramkan di sekitar Bukit Soeharto. Pria yang enggan menyebutkan nama aslinya ini memilih dipanggil dengan nama Brii.
Taman Hutan Raya Bukit Soeharto Foto: Wikipedia
Saat dihubungi kumparan melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp, Brii bercerita tentang pengalamannya saat tengah dinas di Kalimantan Timur. Menurut penuturannya, pada tahun 2013 lalu, ia mendapat tugas dinas dari Jakarta ke Samarinda.
ADVERTISEMENT
Karena tidak mendapat jadwal penerbangan yang diinginkan dari Jakarta ke Samarinda, Brii memutuskan untuk berangkat menggunakan pesawat ke Balikpapan dan melanjutkan perjalanannya melalui jalur darat. Perjalanan darat memakan waktu sekitar tiga jam dari Balikpapan dan melewati Bukit Soeharto.
Ilustrasi Hutan Pinus Foto: Pixabay
Bagi Brii, Bukit Soeharto punya pemandangan yang meneduhkan seperti hutan yang ada di Ujung Kulon, Banten. Sebab, hutan raya yang dikelola pemerintah ini dipenuhi pepohonan yang sangat rindang.
Namun, saat melintasi kawasan Bukit Soeharto, Brii merasakan suasana yang tidak biasa. Perasaannya kalut, seakan tempat ini menyimpan banyak kisah seram dan cerita di masa lalu.
"Iya, ketika masuk ke wilayah Bukit Soeharto itu suasananya sudah enggak enak, auranya campur-campur, antara sedih, marah, duka, kelam," katanya saat dihubungi kumparan, Rabu (8/5).
Jalan Tol Balikpapan-Samarinda yang ditargetkan beroperasi fungsional bulan Mei Mendatang. Foto: Dok. Jasa Marga
Brii dikenal paling sensitif di antara teman-temannya. Tapi ia menampik bahwa ia diikuti oleh makhluk astral.
ADVERTISEMENT
"Kalau diikutin, enggak ada perasaan kayak gitu," akunya.
Sayang, ketika tiba di Samarinda, perasaan ganjil yang menyertainya kemudian jadi nyata. Ketika tiba di hotel, Brii mendapat sebuah kamar dengan fasilitas twin bed dan jendela menghadap pelabuhan.
Merasa tak nyaman, Brii meminta pihak hotel untuk menggantinya dengan kamar lain yang tersedia. Tetapi karena masalah teknis, ia tak jadi mengambil kamar alternatif tersebut dan memilih tidur di kamar berkasur dua sebelumnya.
Saat sedang berada di toilet, ia samar-samar mendengar suara pria meminta tolong diantar pulang. "Tolong, antar kami pulang...," begitulah kira-kira ucapan pria tersebut.
Mengira suara itu berasal dari kamar lain, Brii yang sedang berada di toilet, tak ambil pusing dan segera keluar kamar untuk menikmati daerah baru yang belum pernah dikunjunginya ini. Ia menghabiskan waktu mengeksplorasi kota hingga malam hari dan pulang pada pukul 22.00 WITA.
ADVERTISEMENT
Sepulang jalan-jalan, ia pun mandi dan bergegas tidur, sampai pada akhirnya ia mendengar kembali suara yang sama dengan permintaan yang sama pula mengalun di telinganya. Suara itu lebih jelas ketimbang yang ia dengar tadi siang, sehingga Brii semakin yakin bahwa suara samar-samar milik pria itu berasal dari kamarnya sendiri.
Ilustrasi kamar hotel twin bed Foto: Pixabay
Pukul 00.00 WITA, Brii sudah terlelap, sampai ia bermimpi didatangi dua orang pria dengan pakaian bercucuran darah. Satu diantaranya berpostur tinggi besar dengan leher hampir putus. Usianya sekitar 45-50 tahun dan mengenakan pakaian berwarna biru cerah yang dipasangkan dengan jeans biru muda.
Sedangkan pria yang satunya berdiri tanpa kepala mengenakan celana panjang berwarna hitam dan baju kaos berwarna abu-abu. "Tolong, antar kami pulang...," kata mereka pada Brii yang sontak membuat Brii terbangun karena ketakutan.
ADVERTISEMENT
Bri bernafas tersengal-sengal, ia membuka mata dan menyadari bahwa ia kini telah tidur meringkuk membelakangi kasur satunya. Sedangkan di depannya ada kaca jendela yang menampilkan dua sosok pria astral dalam mimpinya sedang duduk di tepi kasur menghadap dia sembari meminta tolong.
Ketakutan, Brii mencoba menutup mata, tetapi ia malah merasakan hembusan nafas hangat di telinganya. "Tolong, antar kami pulang...," kata suara itu lagi.
Brii memberanikan diri, langsung berdiri dan melihat kasur di sebelahnya, tapi tidak menemukan apapun di sana. Ia pun langsung ke luar kamar dan menenangkan diri, duduk di balkon hotel.
Penampakan hantu yang dibunuh di Bukit Soeharto Foto: Indra Fauzi/kumparan
Di tengah kekalutan, Brii menghubungi seorang temannya. Temannya tersebut kemudian menyarankan agar Brii membantu 'mereka' pulang ke tempat yang 'mereka' inginkan. Karena menurut sang teman, Brii dianggap cukup kuat oleh makhluk astral tersebut untuk membawa mereka pulang.
ADVERTISEMENT
Singkat cerita, setelah pekerjaannya selesai, Brii memutuskan untuk pulang secepatnya dari Samarinda. Ia memesan bus travel untuk mengantarkannya ke Balikpapan, karena pesawatnya nanti akan berangkat dari sana.
Brii beruntung, ia masih mendapatkan bus terakhir di hari itu yang akan berangkat pukul 22.00 WITA. Tanpa mengindahkan saran sang teman untuk mengantar makhluk astral itu untuk pulang, Brii bersama seorang penumpang pria lain yang berusia 30-an memasuki mobil dan membelah jalan.
Baru setengah jam perjalanan, tiba-tiba mobil berhenti, penumpang yang bersama Brii tiba-tiba meminta turun. Ia kemudian berbisik pada Brii untuk tidak menoleh ke belakang. Ia terlihat sangat panik dan takut. Segera setelah sang penumpang turun, Brii merasa ada yang janggal.
ADVERTISEMENT
Tetapi karena ia pun takut, ia tak berani untuk melihat ke belakang. Mobil kembali melaju dengan hanya dua orang penumpang, Brii dan pak supir. Tak lama, Brii merasakan suasanya yang sangat sepi dan gelap di sekitar mobil, ternyata mereka telah sampai di Bukit Soeharto.
Malam itu malam Jumat, suasana mencekam terasa menjadi-jadi. Kawasan Bukit Soeharto pada siang hari saja terasa sangat sepi, apalagi pada tengah malam. Tiba-tiba Brii mendengar suara nafas yang berhembus.
Brii yang tahu bahwa tidak ada orang lain selain ia dan pak supir mulai panik. Ia berusaha tidak menggubris sampai pada akhirnya ia mendengar suara batuk dan sekejap tanpa sadar menoleh ke belakang.
Saat itulah ia menyadari bahwa di bangku belakang ada dua orang pria astral yang ada dalam mimpinya mengikuti mereka sepanjang perjalanan. Badan Brii langsung lemas, ia panik, ketakutan, tanpa sadar ia meremas pundak pak supir yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sambil mulutnya berkomat-kamit membaca doa.
ADVERTISEMENT
"Takut. Penampilannya sangat menyeramkan soalnya. Saya baru sadar diikuti ketika mau balik ke Balikpapan. Pak supir, awalnya kelihatan biasa aja, ketika mulai ngebut itulah baru terlihat panik dan ketakutan," cerita pria yang pernah menjadi anggota dalam sebuah acara televisi swasta tentang paranormal itu.
Karena ketakutan, supir travel kemudian menepikan mobil. Brii dan sang supir lalu langsung ke luar dari mobil. Mereka menepi ketakutan. Waktu kira-kira menunjukkan pukul 00.00 WITA. Jalanan sangat sepi, sesekali ada mobil melaju kencang.
Ilustrasi hutan. Foto: Pixabay
Di tengah-tengah beristirahat, sang supir mengaku bahwa telah lebih dulu melihat kedua makhluk astral itu. Brii kemudian menghubungi temannya dan meminta pertolongan. Ia meletakkan ponselnya di jok tengah dan menutup pintu mobil.
ADVERTISEMENT
Sekitar 15 menit kemudian, pintu mobil tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Lalu keluarlah dua orang pria astral itu, turun dari mobil, menyeberangi jalan raya, masuk ke hutan, dan hilang di antara pepohonan di Bukit Soeharto. Setelah merasa tenang, lalu Brii dan sang supir melanjutkan perjalanan hingga ke Balikpapan.
Supir yang mengendarai travel Brii sudah 20 tahun melayani perjalanan Samarinda-Balikpapan, sehingga ia mengetahui setiap kejadian yang terjadi di sekitarnya. Menurut cerita sang supir, pada tahun 2012, ada sebuah pembunuhan yang terjadi di Bukit Soeharto.
Ada mobil yang dirampok, lalu supir dan penumpangnya dibunuh. Salah satu diantaranya dipenggal hingga putus. Sebelum meninggal, korban tinggal di hotel yang juga ditempati oleh Brii di Samarinda. Tanpa pernah check out, karena telah meninggal terlebih dahulu.
Ilustrasi hantu Foto: Dok. Pixabay
Lantas mengapa arwahnya ada di hotel dan bukan di Bukit Soeharto?
ADVERTISEMENT
"Nah, menurut penerawangan aku, sebelumnya mereka masih ada urusan yang belum selesai di Samarinda, aku enggak tahu urusannya apa. Sepertinya urusan mereka sudah selesai, terus mereka berniat untuk balik ke tempat pembunuhan, mungkin untuk menyelesaikan urusan berikutnya, " jelas Brii.
Selain kisah tentang dua orang pria astral yang dipenggal kepalanya tersebut, Brii juga bercerita bahwa ia pernah kembali ke Bukit Soeharto lagi waktu berikutnya untuk mencari tahu kisah lain.
"Dulunya pernah ada banyak pekerja romusha yang meninggal di sana, waktu zaman penjajahan Jepang, (jadi) banyak arwah penasaran gentayangan. Banyak yang dikubur di Bukit Soeharto, kuburannya enggak layak, enggak bertanda," tutur pria yang menggunakan nama @BriiStory dalam Twitter itu.
Ilustrasi hutan Foto: Pixabay
Karena penguburannya dilakukan secara tidak layak dan tanpa tanda, Brii mengungkapkan bahwa kamu bisa saja secara tidak sengaja menginjak kuburan mereka. Secara sekilas, kamu juga tidak akan melihat tanda-tanda yang berarti, kecuali memang kamu memperhatikan secara khusus.
ADVERTISEMENT
"Enggak kelihatan soalnya. Hmm, susah kalau kitanya polos. Tapi kalau mau sedikit aware, suasanya terasa, ke'eung kalau kata orang Sunda. Biasanya udaranya (terasa) engap, sedikit sesak buat nafas. Itu tanda-tanda dasarnya, sih, kalau yang sensitif pasti bisa lihat," katanya.
Percaya atau tidak, kisah horor akan tergantung pada setiap pribadi masing-masing. Seram atau tidak juga tergantung pada kepercayaan masing-masing pembaca.
Bagaimana menurutmu? Adakah kisah lain yang pernah kamu rasakan saat berada di Bukit Soeharto?