86% Pengguna Internet Dunia Tertipu Hoaks, Kebanyakan dari Facebook

15 Juni 2019 15:42 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Aksi Jumat Keramat tuntut kasus hoax Fahri & Fadli Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aksi Jumat Keramat tuntut kasus hoax Fahri & Fadli Foto: Fitra Andrianto/kumparan
ADVERTISEMENT
Informasi palsu atau hoaks bukan menjadi masalah di Indonesia saja. Survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga tata kelola global yang berbasis di Kanada, Centre for International Governance Innovation (CIGI), menemukan hoaks telah menjadi ancaman besar di dunia.
ADVERTISEMENT
Survei bertajuk "2019 CIGI-Ipsos Global Survey on Internet Security and Trust" menemukan sebanyak 86 persen pengguna internet global pernah tertipu informasi hoaks, setidaknya sekali. Sementara 44 persen menyatakan kadang-kadang dan 14 persen tidak pernah terjebak oleh konten hoaks.
Platform Facebook menjadi sarang hoaks sekaligus jadi sumber utama bagi warga dunia yang pernah tertipu konten hoaks. Sebanyak 77 persen pengguna Facebook secara global mengaku membaca berita palsu dari konten yang di-posting di jejaring sosial tersebut, diikuti oleh 62 persen pengguna Twitter dan 74 persen pengguna media sosial lainnya.
Sekitar 10 persen pengguna Twitter mengatakan mereka telah menutup akunnya dalam satu tahun terakhir sebagai akibat langsung dari berita hoaks, sementara 9 persen pengguna Facebook melaporkan melakukan hal yang sama.
ADVERTISEMENT
"Survei sikap global tahun ini tidak hanya menggarisbawahi kerapuhan internet, tetapi juga meningkatnya ketidaknyamanan para netizen dengan media sosial dan kekuatan yang dimiliki perusahaan-perusahaan ini atas kehidupan sehari-hari mereka," kata peneliti CIGI, Fen Osler Hampson, dalam sebuah pernyataan.
Aksi Jumat Keramat tuntut kasus hoax Fahri & Fadli Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Hasil survei juga membuktikan, orang-orang di Mesir adalah yang paling mudah tertipu, sementara responden di Pakistan adalah yang paling skeptis. Selain itu, survei juga menemukan kekhawatiran pengguna internet akan privasinya di dunia maya.
Sebanyak 73 persen mengatakan pengguna internet ingin data online dan informasi pribadi mereka disimpan di negara mereka sendiri. Sementara hasil survei mayoritas di Hong Kong (62 persen), Indonesia (58 persen), Mesir (58 persen), India (57 persen), Brasil (54 persen), dan Meksiko (51 persen) mengatakan mereka ingin data online dan informasi pribadi mereka disimpan di luar negara mereka.
ADVERTISEMENT
Mayoritas pengguna internet di seluruh dunia mendukung semua upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan internet untuk memerangi hoaks, seperti menghapus konten negatif dari media sosial dan platform berbagi video hingga mendukung pemerintah menyensor konten.
Jajak pendapat survei CIGI-Ipsos 2019 dilaksanakan antara 21 Desember 2018 hingga 10 Februari 2019, dan melibatkan 25.229 pengguna internet di Australia, Brasil, Kanada, China, Mesir, Prancis, Jerman, Inggris, Hong Kong (China), India, Indonesia, Italia, Jepang, Kenya, Meksiko, Nigeria, Pakistan, Polandia, Rusia, Afrika Selatan, Republik Korea, Swedia, Tunisia, Turki dan AS.