Hariyanto Arbi Berkisah Pengalaman Horor & Penyesalan Semasa Kariernya

12 Oktober 2021 17:59 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Mantan atlet bulu tangkis Indonesia Hariyanto Arbi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mantan atlet bulu tangkis Indonesia Hariyanto Arbi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
Hariyanto Arbi adalah salah satu legenda bulu tangkis Indonesia yang telah merasakan banyak pengalaman berharga sepanjang kariernya. Namun, ada pula kisah horor dan penyesalan yang terukir di masa silam.
ADVERTISEMENT
Hariyanto merengkuh banyak prestasi bergengsi di masa jayanya. Empat titel Piala Thomas (1994, 1996, 1998, 2000) dan dua trofi All England (1993 & 1994) adalah contoh dari sekian banyak tinta emasnya di dunia bulu tangkis.
Bicara soal All England, Hariyanto meninggalkan penyesalan di ajang tersebut. Mestinya, sosok kelahiran 21 Januari 1972 ini bisa mencetak 'hattrick' juara andai tak kalah dari Poul-Erik Hoyer Larsen pada final edisi 1995.
Kala itu, Hariyanto kalah 16–17 dan 6-15 dari sang tunggal putra Denmark. Beralih ke masa kini, pria asal Kudus itu kembali mengenang momen yang amat disesalinya tersebut.
Ia mengaku bisa kalah karena meremehkan pria yang kini menjabat Presiden BWF itu.
Pebulu tangkis Indonesia, Hariyanto Arbi. Foto: Instagram/@hariyanto_arbi
"Ya, waktu itu, saya lebih banyak menang, entah 8 atau 9 kali menang. Terus, di pertandingan terakhir di Korea pada Januari 1995, masih menang saya tuh dan skornya jauh juga," tutur pria yang kini menjadi pebisnis itu kepada kumparan.
ADVERTISEMENT
Menurut data yang tertera di BWF Tournament Software, Hariyanto Arbi menang 8 kali dan kalah 3 kali dari Poul-Erik Hoyer Larsen. Kemenangan di Korea yang disebutnya itu terjadi di Korea Open dengan skor 15-10 dan 15-6.
"Ketemu lagi di All England, melihat rekor dan permainan di Januari saya masih menang jauh, setiap ketemu pemain Indonesia atau siapa, 'Ah, udahlah pasti menang' makanya jadi lengah dan kurang persiapan karena yakin sekali, over-keyakinan," kenangnya.
"Jadinya gitu, karena lengah dan overconfident, pas di lapangan enggak main sesuai yang semestinya, jadilah kalah," lanjut Hariyanto yang ditekuk dua gim langsung oleh Larsen di final All England 1995 dengan skor 16–17 dan 6-15.
Mantan pebulu tangkis Denmark, Poul-Erik Hoyer Larsen. Foto: ROSLAN RAHMAN / AFP
Hariyanto Arbi memang sering menang atas Larsen. Namun, setahun berselang, sang lawan kembali memberinya satu penyesalan lain dalam kariernya saat bertanding di Olimpiade Atlanta 1996.
ADVERTISEMENT
"Kalau turnamen besar [lainnya], saya kan sudah pernah dapatlah [titel juaranya], ya. Jadi, Olimpiade saja cuma sampai semifinal. Pas perebutan juara 3 juga kalah. Itu tahun 1996 di Atlanta," ujar adik dari Hastomo Arbi dan Eddy Hartono ini.
"Di semifinal kalah sama Poul-Erik, Presiden BWF yang sekarang. Di perebutan tiga-empat, kalah sama Rashid Sidek. Padahal, kalau di pertandingan lain banyak menangnya, hahaha...," tambahnya.
Bicara soal Sidek, Hariyanto juga benar banyak menangnya atas tunggal putra Malaysia itu. Menurut data yang tertera di BWF Tournament Software, ia menang 7 kali dan kalah 5 kali.
Mantan atlet bulu tangkis Indonesia Hariyanto Arbi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Tidak cuma tentang penyesalan, Hariyanto Arbi juga teringat momen horor. Namun, ini bukan tentang hal yang terjadi di lapangan, melainkan di pesawat.
ADVERTISEMENT
Jadi, ada momen Hariyanto dan rekan-rekannya pergi untuk sebuah turnamen di Polandia pada era 1990-an. Awalnya, ia mengira bahwa itu hanya akan menjadi perjalanan biasa seperti ke negara-negara lain, tetapi itu menjadi pengalaman yang membuat jantungnya berdegup kencang karena turbulensi dan cuaca buruk.
"Ingat waktu itu di Polandia. Tahun berapa ya, lupa saya, itu pesawatnya itu turunnya sampai jatuh banget gitu, lho. Kami kan duduknya bareng juga, ada orang bule-bule tua, mereka ketawa-tawa tapi kami tegang sendiri," jelasnya.
"Mungkin cuacanya lagi enggak bagus. Kami keluar dari situ, lemas semua, haha... tapi bule-bule tua itu ketawa-ketawa semua. Itu pengalaman seram sih buat saya. Ya, 1990-anlah itu," imbuhnya.
***
Ikuti survei kumparan Bola & Sport dan menangi e-voucher senilai total Rp3 juta. Isi surveinya sekarang di kum.pr/surveibolasport.
ADVERTISEMENT