Survei PISA: Kualitas Pendidikan Indonesia Masih Jeblok

5 Desember 2019 13:00 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi sekolah dasar. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sekolah dasar. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Dunia pendidikan Indonesia kembali mendapat sorotan setelah hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 diterbitkan pada Selasa (3/12) kemarin. Bagaimana tidak, dari tiga kategori yang disurvei yakni matematika, membaca, dan sains, Indonesia mendapat nilai jeblok.
ADVERTISEMENT
Perlu diketahui, PISA sendiri adalah program yang digagas oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains peserta didik secara global.
Studi ini meneliti remaja berusia 15 tahun, di mana dalam praktiknya para peserta akan diberikan serangkaian tes untuk mengukur kemampuan dari masing-masing kategori yang disurvei. Pada 2018, setidaknya ada 600.000 siswa di 79 negara yang terlibat dalam survei PISA. Indonesia melibatkan 12.098 peserta didik yang tersebar di 399 sekolah.
Ilustrasi pendidikan Foto: Pixabay
Hasil PISA 2018 yang dirilis oleh OECD menunjukkan siswa-siswi Indonesia memiliki kemampuan membaca, matematika, dan sains di bawah rata-rata nilai OECD. Dalam membaca misalnya, Indonesia mendapatkan skor 371, jauh di bawah rata-rata OECD dengan skor 487. Nilai ini sekaligus menempatkan Indonesia di urutan 74, alias keenam dari bawah.
ADVERTISEMENT
Sedangkan dalam Matematika, Indonesia ada di peringkat ke-7 dari bawah dengan skor 379 (OECD 489), diikuti oleh Arab Saudi dan Maroko. Sementara untuk Sains, Indonesia mendapatkan skor 396 (OECD 489), dan membuatnya menempati posisi 70.
Dari hasil itu dapat disimpulkan, hanya 30 persen siswa Indonesia yang memenuhi kompetensi membaca minimal, seperti mampu mengidentifikasi gagasan utama dalam teks, mencari informasi, serta menelaah lebih dalam isi teks.
Begitupun dengan matematika, hanya 28 persen yang berada di kompetensi minimal. Sedangkan untuk Sains, hanya 40 persen siswa Indonesia yang mampu berada dalam kompetensi minimal.
Secara keseluruhan, Indonesia berada di urutan ke-74 dari 79 negara yang mengikuti survei PISA. Skor paling buruk ada pada kategori membaca, ini artinya tingkat literasi siswa Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan negara tetangga, seperti Singapura yang bertengger di urutan kedua setelah China, dan kita tidak lebih baik dari Malaysia.
ADVERTISEMENT
Indonesia diketahui pertama kali mengikuti PISA pada tahun 2001. Sejak saat itu pula raihan skor Indonesia selalu berada di posisi terbawah, dan tidak mengalami kemajuan yang signifikan.
Ironisnya pada PISA 2018, kemampuan membaca dan matematika siswa Indonesia justru mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan dalam hal literasi, Indonesia merosot di level terbawah dengan raihan skor kembali seperti tahun 2001.