Mengapa Luar Angkasa Sangat Dingin, Padahal Matahari Sangat Panas?

22 Juni 2020 10:06 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi permukaan Matahari. Foto: LoganArt via Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi permukaan Matahari. Foto: LoganArt via Pixabay
ADVERTISEMENT
Mengapa luar angkasa terasa sangat dingin sementara Matahari sangat panas? Jawabannya, karena tidak seperti Bumi, sistem tata surya kita memiliki suhu yang ekstrem. Matahari merupakan sebuah bola gas api yang intinya bersuhu 15 juta celcius dan permukaannya bersuhu 5.500 celcius. Di sisi lain, suhu luar angkasa bisa berkisar sampai minus 270 celcius.
ADVERTISEMENT
Panas bergerak melalui kosmos sebagai radiasi, sebuah gelombang energi inframerah yang berpindah dari tempat yang panas ke tempat yang dingin. Gelombang radiasi tersebut memanaskan molekul yang dilaluinya.
Seperti itulah proses perjalanan panas Matahari menuju Bumi. Namun, panas Matahari hanya memanaskan molekul atau partikel yang dilaluinya, sementara molekul yang tidak dilalui gelombang panas Matahari tetap dingin. Contohnya, Planet Merkurius yang suhu di malam hari bisa 537 celcius lebih rendah dibanding sisi planet yang terkena radiasi Matahari.
Sementara di Bumi, suhu udara tetap hangat, bahkan di malam hari. Hal itu disebabkan karena gelombang panas di Bumi berpindah dengan tiga metode yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.
Ketika radiasi matahari sampai di Bumi dan memanaskan molekul di atmosfer, gelombang itu melepas energi ekstra di sekitarnya. Molekul-molekul tersebut ikut memanaskan molekul di sekitarnya. Proses ini disebut dengan konduksi, yaitu reaksi berantai suhu panas di luar jalur radiasi matahari.
Pemandangan Luar Angkasa Foto: pixabay
Sementara luar angkasa pada dasarnya merupakan ruang hampa. Molekul gas di luar angkasa terlalu sedikit dan berjarak terlalu jauh untuk saling bersinggungan. Akibatnya, ketika gelombang panas matahari melintas, proses pemanasan dengan metode konduksi tidak dapat terjadi. Hal yang sama berlaku pada metode konveksi yang dapat berlangsung jika terdapat gravitasi. Sementara di luar angkasa tidak memiliki gravitasi.
ADVERTISEMENT
Elisabeth Abel, ilmuwan NASA yang bekerja di Parker Solar Probe, sebuah program penerbangan pesawat luar angkasa untuk mempelajari Matahari, mengatakan luar angkasa memiliki variasi suhu udara yang ekstrem mulai dari suhu yang sangat panas sampai suhu yang beku. Hal ini memberikan tantangan unik karena beberapa bagian di pesawat luar angkasa harus tetap dingin, sementara bagian lain memerlukan suhu panas agar tetap berfungsi.
Pesawat luar angkasa NASA yang dilengkapi teknologi heat shield ini akhirnya berhasil mendekat sampai 24 juta kilometer ke dalam atmosfer Matahari pada April 2019 lalu. Jadi pesawat pertama dalam sejarah yang pernah sedekat itu dengan Matahari.