Konten spesial Sehatpedia- Kak Seto

Kak Seto Bernyanyi di Kala Marah, Bersyukur di Kala Susah

8 Februari 2022 10:00 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seto Mulyadi –psikolog anak yang dikenal dengan sebutan Kak Seto– berbeda dengan kakek-kakek pada umumnya. Ia masih senang lari-larian, salto, dan parkour. Aktivitas tersebut jauh dari citra dirinya yang tampak kalem di depan publik. Setelah aksi ‘petakilan’ Kak Seto itu diungkap ke publik, banyak orang takjub dengannya yang masih bergerak lincah bagai anak kecil.
Aksi petakilan Kak Seto dapat dilihat di Instagram pribadinya @kaksetosahabatanak. Akun yang dikelola oleh anak dan menantunya itu kerap membagikan tingkah ‘gila’ Kak Seto yang tak lazim di usianya yang telah menginjak 70 tahun. Beberapa di antaranya panjat tebing, berlari di peron stasiun, hingga naik tangga dengan cara melangkahi dua anak tangga sekaligus. Dalam satu kesempatan, Kak Seto bahkan mampu lompat ke atap rumahnya tanpa alat bantu apa pun. Netizen kemudian menyebut Kak Seto sedang melakukan parkour.
Kak Seto sendiri tidak mengerti apa itu parkour. Sejak kecil, dia memang sudah sering memanjat dan melompat ke sana ke mari, termasuk di bangunan rumah atau hotel.
“Sebetulnya saya tidak pernah mengerti apa itu parkour. Jadi saya sudah biasa lompat, loncat,” jelas Kak Seto saat ditemui kumparan di kediamannya, Januari lalu. “Jadi, buat saya mungkin, ya, petakilan itu yang lebih tepat istilahnya.”
Psikolog Anak, Seto Mulyadi, atau populer disebut Kak Seto. Foto: Aulia Rahman Nugraha/kumparan
Setiap pagi Kak Seto selalu olahraga. Push up setidaknya 70 kali, joging, salto, dan koprol. Aktivitas tersebut didukung dengan asupan makanan bergizi. Kak Seto biasa sarapan jus murni buah tanpa gula serta makan sayur-sayuran. Dia memilih jalan hidup vegetarian yang dijalankan sejak 2011. Dalam urusan beristirahat pun, Kak Seto berhenti bekerja pukul 17.00. Tidur jam 21.00, paling telat jam 22.00.
Menjaga kesehatan fisik hanya sebagian cerita bagaimana Kak Seto tetap bisa petakilan di usia lanjut. Di samping itu, ia juga memperhatikan kesehatan mentalnya.

Jangan marah-marah, nyanyi saja

Salah satu cara Kak Seto menjaga kesehatan mentalnya adalah dengan meluapkan emosi saat marah. Namun, ia tidak pernah meluapkan amarahnya dengan cara membentak atau mengeluarkan kata kasar. Dia memilih untuk bernyanyi dengan lantang, aktivitas yang menurutnya setara dengan berteriak, tetapi tidak menyakiti hati orang lain.
“Marah, meledakkan emosi, itu sebetulnya penting. Tapi kalau meledakkan emosi dengan memukul orang, membentak, mengeluarkan segala koleksi kebun binatang, dan sebagainya, itu kan ada yang terluka hatinya, akan merusak persahabatan, merusak suasana, dan sebagainya,” ujar Kak Seto.
Beberapa lagu favorit yang rajin dinyanyikan Kak Seto saat marah memiliki karakteristik nada tinggi, seperti lagu-lagu Batak dan seriosa. Saking konsistennya Kak Seto meluapkan amarah dengan bernyanyi, anak-anaknya langsung paham bahwa ayah mereka sedang banyak pikiran jika menyanyikan lagu Batak atau seriosa di rumah.
Menurut anak ketiga Kak Seto, Sasha Seto, ayahnya tidak pernah marah-marah dan membentak anak. Ketika sedang marah kepada anaknya, kata Sasha, Kak Seto hanya menampilkannya dengan mengubah intonasi bicara menjadi lebih tegas.
“Biasanya kalau pagi-pagi Ayah sebelum pergi terus Ayah nyanyi kencang di kamar mandi lagu Butet lah, lagu O Sole Mio yang kenceng itu, merdu, tapi itu sebenarnya Ayah lagi banyak pikiran. Pasti kita tahu kalau Ayah lagi banyak pikiran, meluapkan dengan nyanyi di kamar mandi. Kita tahu oh ini Ayah lagi banyak pikiran di kerjaan,” aku Sasha.
Sasha Seto, anak ketiga Kak Seto. Foto: Habib Allbi Ferdian/kumparan
Menjaga kesehatan mental yang juga penting menurut Kak Seto, adalah dengan melakukan kegiatan kreatif. Dengan membaca buku, misalnya, otak akan kemasukan “asupan yang bergizi”, dan “asupan bergizi” itu dikeluarkan lagi oleh Kak Seto dengan menulis artikel atau menulis lagu.
“Makanya sehat fisik tadi dilakukan dengan bergerak teratur, tapi juga atur waktu istirahat, makan makanan yang berkualitas. Nah, sehat jiwa juga begitu. Jiwa juga ide-idenya dikeluarkan. Saya selalu berprinsip, tiada hari tanpa kreativitas, entah bikin puisi, entah bikin buku, artikel, bikin lagu, itu selalu. Sehingga ada sesuatu dikeluarkan begitu.”

Aku bersyukur, maka aku bahagia

Sebelum muncul di TV sebagai asisten Pak Kasur dan dikenal sebagai pemerhati hak anak, Kak Seto muda sempat terombang-ambing dalam ketidakpastian. Laki-laki asal Klaten, Jawa Tengah, itu terus-terusan gagal masuk kuliah kedokteran. Pada 1970, Kak Seto pernah ikut tiga ujian masuk kedokteran di Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Universitas Indonesia sekaligus. Ketiganya gagal.
Malu dengan kegagalan yang terus ia alami, Kak Seto berencana mencari peruntungan ke Jakarta. Ibunya melarang. Karena sudah kepalang malu, Kak Seto benar-benar minggat dari rumah untuk mencari kesempatan hidup yang lebih baik di Ibu Kota.
“Tapi di Jakarta ternyata tidak seindah yang saya bayangkan, tidak mudah mencari pekerjaan. Akhirnya saya menggelandang, jadi gembel. Kadang-kadang ngamen, nyanyi seadanya,” kenang Kak Seto. “Jadi, akhirnya selama 7 bulan saya merasa jadi gelandangan.”
Konten spesial Sehatpedia "Rahasia Petakilan Kak Seto". Foto: Aulia Rahman Nugraha/kumparan
Nasib Kak Seto mulai berubah tatkala ia melihat acara anak-anak yang dipandu Ibu Kasur di TVRI pada April 1970. Kak Seto, yang saat itu sedang bekerja serabutan sebagai buruh cuci di pasar, merasa bahwa ia mungkin bisa menjadi asisten Ibu Kasur. Ia mendatangi rumah Ibu Kasur setelah mendapatkan alamatnya dari seorang petugas di TVRI.
Pak Kasur dan Ibu Kasur adalah pasangan pendidik anak-anak. Keduanya dikenal sebagai pencipta lagu anak dan penyiar acara anak-anak sejak tahun 1960-an hingga 1990-an. Mereka merupakan pendahulu Kak Seto di bidang serupa. Meski dipanggil Kasur, nama asli Ibu Kasur sebenarnya adalah Sandinah, sedangkan nama asli Pak Kasur adalah Soerjono. Kasur sendiri berasal dari singkatan panggilan Soerjono yang dijuluki Kak Soer di Gerakan Kepanduan.
Setibanya di rumah Ibu Kasur, Kak Seto dibukakan pintu oleh Pak Kasur. Ia mengaku sebagai calon mahasiswa UI dan berminat menjadi asisten Pak Kasur tanpa dibayar. “Namanya calon, kapan-kapan maksudnya gitu, padahal masih pengangguran, masih gelandangan,” canda Kak Seto saat wawancara bersama kumparan.
Pak Kasur menyetujui permintaan itu dan meminta Kak Seto untuk datang ke PAUD yang dikelolanya. Kak Seto akhirnya datang ke taman kanak-kanak tersebut, di mana dia mendapat julukan namanya dari Pak Kasur.
“Saya lihat agenda itu tanggal 4. Bulannya bulan April, bulan 4. Jam 4. Wah, itu saya kenang terus sampai sekarang sebagai hari pengabdian saya di dunia anak-anak,” kata Kak Seto.
Pertemuan dengan Pak Kasur dan Ibu Kasur menjadi titik balik perjalanan hidup Kak Seto. Ia dipercaya oleh keduanya untuk menjadi penerus sosok pelindung dan pendidik anak-anak Indonesia. Pak Kasur pulalah yang menganjurkan Kak Seto untuk jadi psikolog – pekerjaan yang disebut Pak Kasur sebagai “dokter tanpa alat suntik” untuk “mengobati jiwa.”
Melihat balik perjalan hidupnya tersebut, Kak Seto menjelaskan kepada kumparan satu kunci lain untuk menjaga kesehatan mental: Bersyukur.
“Saya menemukan satu kata kunci yang selalu saya pegang teguh. Jangan kita bahagia dulu baru bersyukur. Tapi bersyukurlah, bersyukurlah, selalu bersyukur, maka kita akan bahagia,” ungkap Kak Seto.
“Jadi, saya waktu jadi gelandangan, jadi gembel, tidur di tempat sampah yang kadang-kadang banyak lalat, cacing, kecoa, tapi saya toh bisa nikmat, karena saya bersyukur masih ada tempat dan saya enggak diganggu waktu itu oleh teman-teman lain.”

Sehat jasmani dan rohani, kunci Kak Seto petakilan di usia 70

Fenomena Kak Seto yang masih bisa petakilan di usia senja dimungkinkan karena ia sehat secara jasmani dan rohani, menurut pakar. Kedua jenis kesehatan tersebut sebenarnya terkait satu sama lain, dan Kak Seto mampu secara konsisten menjaga keduanya dengan baik.
Menurut Alvieni Angelica, M.Psi., orang lanjut usia rentan overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan karena aktivitasnya mulai sedikit. Oleh karena itu, ia menganjurkan agar keluarga selalu siap hadir menemani orang lanjut usia agar mereka tidak kesepian dan merasa didengarkan.
Melakukan olahraga kecil juga penting bagi lansia supaya terhindar dari depresi, kata Alvieni.
“Karena ketika kita olahraga badan kita cenderung lebih panas, lebih hangat, darahnya mengalir sehingga kita nggak dingin. Karena kalau dingin ada kecenderungan kita depresi juga,” jelasnya.
“Jadi betul kalau misalnya kesehatan mental itu dikatakan punya hubungan yang erat sekali dengan kesehatan fisik. Kenapa? Karena memang, otak emosi kita. Jadi otak emosi yang ada di dalam diri kita itu punya hubungan langsung dengan tubuh.”
Seto Mulyadi, atau biasa disapa Kak Seto, menerapkan pola hidup sehat dalam rutinitas hariannya agar fisik dan mentalnya tetap prima. Foto: kumparan
Hal senada juga disampaikan oleh dr. Michael Triangto, Sp.OK., seorang dokter spesialis kesehatan olahraga. Michael mengatakan bahwa Kak Seto dapat menjadi figur panutan untuk para lansia karena tetap mampu melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa dibatasi masalah kesehatan.
Aksi petakilan Kak Seto juga dapat menjadi inspirasi bagi anak muda agar mereka menjaga kesehatan fisiknya supaya tetap bugar saat tua nanti. Michael mengatakan, resep di balik masih lincahnya Kak Seto di usia lanjut, berakar dari usahanya yang mempertahankan kondisi kebugaran tubuh sejak muda. Dia berinvestasi keras pada kesehatan untuk terus berolahraga, ketat menjaga pola makan, dan istirahat yang cukup.
Plus, Kak Seto sangat paham bagaimana ia harus mengelola kesehatan mentalnya mengingat dia adalah psikolog senior.
“Kak Seto saat ini masih bisa melakukan push-up dan lain sebagainya. Kalau tidak bisa dilakukan sejak awal, tentunya tidak mungkin bisa tiba-tiba bisa dilakukan di usia lanjut,” jelas Michael.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten