Indonesia Pakai Dexamethasone yang Diklaim Ampuh Obati Pasien Corona, Hasilnya?

29 Juni 2020 14:30 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ruang isolasi RSUD Cut Meutia untuk pasien terjangkit virus corona. Foto: ANTARA FOTO/Rahmad
zoom-in-whitePerbesar
Ruang isolasi RSUD Cut Meutia untuk pasien terjangkit virus corona. Foto: ANTARA FOTO/Rahmad
ADVERTISEMENT
Menurut riset National Institute for Health Research (NIHR) di Inggris, pemberian obat deksametason (dexamethasone) dalam dosis rendah terbukti meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pada pasien tertentu. Hasil positif uji klinis awal dexamethasone ini langsung disambut baik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
ADVERTISEMENT
Penelitian yang dilakukan di Universitas Oxford dan dipimpin oleh Profesor Peter Horby dan Profesor Martin Landray ini menemukan, obat dexamethasone dapat mengurangi risiko kematian hingga sepertiga pada pasien yang menggunakan ventilasi dan seperlima pada pasien lain yang hanya menerima oksigen.
Sebelum digunakan untuk pasien virus corona, obat dexamethasone sebenarnya tidak masuk dalam rekomendasi obat yang akan diuji coba, termasuk dalam panduan WHO, pedoman profesi maupun Kemenkes (Kementerian Kesehatan).
Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 sekaligus ketua umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menjelaskan alasan tak dimasukkannya dexamethasone dalam rekomendasi obat untuk corona karena dexamethasone termasuk kelompok obat kortikosteroid, yakni obat-obatan yang bisa mengurangi respons pertahanan alami tubuh dan mengurangi gejala seperti pembengkakan dan reaksi alergi.
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
Namun, setelah muncul hasil riset awal dari NIHR ihwal dampak positif penggunaan dexamethasone pada pasien corona, obat ini pun akhirnya mulai diperhitungkan kemampuannya. Penting juga diketahui bahwa dexamethasone hanya digunakan untuk pasien yang membutuhkan bantuan ventilator atau oksigen, alias kondisinya sudah berat.
ADVERTISEMENT
“Ini artinya, dexamethasone hanya diberikan untuk pasien dengan gejala berat guna membantu pernapasan. Tapi tidak untuk pasien gejala ringan, karena obat ini tidak akan membawa dampak apapun ,” ujar Agus, dalam konferensi pers virtual, Senin (29/6).
“Kalau obat ini diberikan pada pasien dengan gejala ringan, pertama tidak ada manfaatnya. Kedua, berbicara efek samping, kita tahu bahwa obat ini memberikan efek samping yang cukup banyak.”
Alih-alih membawa manfaat, dexamethasone justru bakal berdampak buruk pada pasien COVID-19 dengan gejala ringan. Dampak buruk ini terjadi karena efek samping dari konsumsi dexamethasone.
Polemik obat corona. Foto: Indra Fauzi/kumparan
Sejak hasil uji coba awal dexamethasone dikeluarkan, kata Agus, beberapa dokter di Indonesia langsung mencoba memberikan dexamethasone kepada pasien virus corona dengan gejala berat dan pasien yang membutuhkan ventilator. Hasilnya, dalam sejumlah kasus, ada pasien yang memang menunjukkan hasil positif.
ADVERTISEMENT
“Mengenai hasil secara keseluruhan kita tidak dapat sampaikan hasilnya seperti apa. Tapi dari beberapa yang menggunakannya itu melaporkan ada progres yang baik,” kata Agus.
Selain itu, pemberian dexamethasone tampaknya lebih membantu pada pasien yang baru saja mengalami gejala berat. Sedangkan untuk pasien yang telah lama memasuki masa kritis, dexamethasone tidak cukup dapat menyelamatkan mereka dari kematian.
Agus mengatakan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap manfaat dan kegunaan dexamethasone. Sama seperti klorokuin dan hidroksiklorokuin, semua kesimpulan akan terjawab di akhir uji coba. Dengan begitu, semua obat yang sebelumnya diklaim ampuh untuk rawat COVID-19 juga bisa berubah sewaktu-waktu, mengikuti hasil penelitian para ilmuwan.