Respons Komunitas Terhadap Program B30 yang Diresmikan Jokowi

23 Desember 2019 17:38 WIB
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas SPBU mengangkat nozzle bio solar di SPBU Coco, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (22/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
zoom-in-whitePerbesar
Petugas SPBU mengangkat nozzle bio solar di SPBU Coco, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (22/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
ADVERTISEMENT
Mulai 1 Januari 2020 mendatang, pemerintah Republik Indonesia akan mewajibkan penggunaan bahan bakar diesel B30 atau Biodiesel 30 persen.
ADVERTISEMENT
Rencana mulai berlakunya penggunaan B30 pada Januari 2020 mendatang, disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo dalam peresmian dimulainya program B30 pada Senin (21/12) pagi.
Adapun bahan bakar diesel B30 tersebut merupakan campuran 30 persen minyak kelapa sawit dan 70 persen solar.
Menanggapi penggunaan bahan bakar diesel B30 tersebut, Ketua Umum Pajero Indonesia ONE (PI.ONE), RWahyu Haryadi, mengatakan bahwa pihaknya tidak masalah dengan kewajiban penggunaan bahan bakar diesel B30 tersebut.
Bahan bakar Biodiesel B30 yang diuji coba di Kementerian ESDM, Kamis (13/6). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
“Apapun itu, kami sih tidak masalah ya. Apalagi kami sudah diundang juga oleh Kementerian Energi beberapa kali kemarin, dan kata mereka aman ya untuk mobil kelasnya seperti Pajero ini,” ujar RWahyu saat berkunjung ke kumparan, senin (23/12) pagi.
Hanya saja, RWahyu berharap agar ketersediaan dari Solar B30 tersebut, nantinya mencukupi untuk seluruh wilayah di Indonesia. Menurutnya, jangan sampai ketika masyarakat sudah dipaksa menggunakan bahan bakar B30 tersebut, justru ketersediaan dari bahan bakar tersebut tidak mencukupi.
ADVERTISEMENT
“Yang penting itu bagi kita ketersediaan ya. Karena kemarin kan sempet juga tuh kita didorong-dorong untuk jangan pakai bahan bakar subsidi. Tapi ternyata yang non subsidinya langka,” jelas RWahyu.
Pajero Indonesia ONE (PI.ONE) Foto: istimewa
Bahkan, menurutnya kelangkaan bahan bakar non subsidi tersebut terjadi di Jabodetabek dan bukan di luar pulau Jawa.
Sementara untuk kualitas dari bahan bakar B30 itu sendiri, dirinya mengaku belum bisa berbicara banyak. Hanya saja, berdasarkan pengalaman dari teman-teman di komunitas PI.ONE, biasanya mereka akan menyiasati kualitas bahan bakar yang kurang baik dengan menggunakan cairan aditif tambahan.
“Kalau temen-temen di PI.ONE sih paling ngakalin pakai cairan adiptif ya. Jadi kalau cetane number-nya pakai yang kurang baik, ya ditambahin cairan adiptif itu,” beber RWahyu.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, kualitas mesin diesel dari Pajero Sport yang menurutnya sudah sangat baik, dirasa tidak ada masalah untuk menggunakan bahan bakar solar B30.
“Syukurnya kalau Pajero Sport tuh, mesinnya tidak rewel ya dengan bahan bakar. Paling hanya check engine aja nyala sebentar, tapi begitu ganti filter solar sih biasanya sudah beres. Artinya tidak akan sampai merusak sebegitu parah ya ke mesin,” pungkas RWahyu.