Viral Vaksin Nusantara Terawan Bikin Remaja Lumpuh Bisa Jalan Lagi, Kok Bisa?

1 Mei 2022 9:39 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kepala RSPAD dr Terawan Agus Putranto tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.  Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
zoom-in-whitePerbesar
Kepala RSPAD dr Terawan Agus Putranto tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
ADVERTISEMENT
Video viral menunjukkan seorang remaja putri yang sebelumnya sakit dan tidak bisa jalan diisukan sembuh dan bisa berjalan kembali setelah mendapat Vaksin Nusantara (VakNus). Sang penggagas, Terawan Agus Putranto, pun ada dalam video tersebut dan terlihat ikut memapah sang remaja.
ADVERTISEMENT
Ketua Satgas COVID-19 IDI Prof Zubairi Djoerban berupaya memberi pemahaman terkait hal ini.
"Vaksin bisa menyembuhkan? Prinsipnya, saya itu pendukung utama karya anak bangsa. Maka, ketika Vaksin Nusantara disebut bisa menyembuhkan, maka saya dukung penelitiannya lebih lanjut," kata Zubairi di akun Twitternya, dikutip Minggu (1/5).
"Kalau hanya satu, belum bisa disebut berkhasiat, butuh bukti lebih jauh lagi," tegasnya.
Kata Zubairi, apa benar ia bisa membuat orang sakit bisa jalan kembali?
"Logika vaksin sebenarnya bukan menyembuhkan. Vaksin diberikan untuk memberikan daya lindung seseorang terhadap virus. Buktinya bisa sembuh? Klaim satu atau dua pasien tidak bisa jadi dasar persetujuan BPOM, FDA, EMA, atau NHS—untuk dijadikan pengobatan," tuturnya.
"Tetap harus melalui uji klinik 1,2, dan 3, yang kemudian dinyatakan efektif dan aman pada skala besar," sambung dia.
ADVERTISEMENT
Zubairi tak menampik Vaksin Nusantara berbasis sel dendritik sudah dipakai untuk berbagai pengobatan. Sebab, sel ini memang sudah banyak dicoba untuk pengobatan berbagai macam kanker.
"Tapi sampai sekarang belum menjadi guidelines. Belum juga ada bukti ilmiah untuk menyembuhkan orang yang diduga lumpuh. Kok sukar sekali prosesnya untuk bikin vaksin atau obat? Memang. Bahkan setelah terbukti dan disetujui, ada yang namanya postmarketing surveillance (PMS). Semacam evaluasi dan pemantauan," urainya.
"Sebab itu, saya dukung Vaknus untuk melakukan penelitian lebih lanjut," tutup dia.
Soal Terapi Sel Dendritik
Menkes, KSAD, dan Kepala BPOM, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait penelitian sel dendritik pada 19 April 2021. MoU ini menyepakati penelitian berbasis sel dendritik di RSPAD Gatot Subroto, namun ditegaskan bukan lanjutan dari penelitian fase I vaksin Nusantara.
ADVERTISEMENT
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPR RI Komisi VII, Rabu (16/6/2021), Terawan mengaku bahwa uji klinis fase II sudah dimulai sebelum MoU dirilis. Ini sebabnya, sudah ada hasil dari uji klinis fase II.
Imunoterapi ini berfungsi untuk meningkatkan ketahanan individu terhadap virus COVID-19.
Riset imunoterapi sel dendritik ini menggandeng AIVITIA, perusahaan bioteknologi asal AS yang lebih dulu mengembangkan terapi sel dendritik untuk pengobatan kanker.
Imunoterapi sel dendritik bersifat personal alias tidak bisa digunakan massal sebagaimana halnya vaksin corona Sinovac dkk yang telah dipakai luas di Indonesia.