Pedagang Kue Klepon di Yogya Santai Berjualan, Tak Terpengaruh Isu Tidak Islami

22 Juli 2020 22:02 WIB
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Penjual klepon di Jalan Urip Sumoharjo, Gondokusuman, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penjual klepon di Jalan Urip Sumoharjo, Gondokusuman, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
ADVERTISEMENT
Kue klepon yang merupakan jajanan tradisional tengah ramai menjadi perbincangan di media sosial Twitter. Penyebabnya, makanan itu disebut bukan makanan Islami.
ADVERTISEMENT
Padahal makanan tradisional ini sudah ada sejak lama. Bahan yang digunakan pun halal, mulai dari tepung ketan hingga parutan kelapa sebagai topping.
Viralnya isu klepon tidak islami itu sudah terdengar sampai ke pedagang klepon di Yogyakarta. Salah satunya adalah Amin Sutiyoso (50) yang biasa berjualan di Jalan Urip Sumoharjo, Gondokusuman, Yogyakarta.
Ketika ditemui pada Rabu (22/7) sore, Amin mengaku tidak terganggu dengan isu itu. Sebab, dia memastikan bahwa klepon buatannya halal dan proses pembuatannya bersih dan sehat.
"Bahan dasarnya beras ketan, gula, kapur sirih. Itu diredam supaya gulanya keluar, nggak pecah. Itu halal, buat kalsium juga," kata Amin ketika ditemui awak media di sela-sela kesibukan berjualan.
Selain menjelaskan klepon adalah makanan halal, dia tampak santai dengan isu yang berkembang di media sosial. Dia menegaskan tidak terpengaruh dengan isu yang dalam beberapa hari ini trending.
ADVERTISEMENT
"Tidak mungkin kita jualan yang tidak halal. Kan pembeli kita juga kebanyakan yang beragama Islam," ucapnya.
Penjual klepon di Jalan Urip Sumoharjo, Gondokusuman, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Amin mengaku, meski ada isu seperti itu omzetnya tidak mengalami penurunan. Hal itu dibuktikan dengan pembeli yang masih saja antre untuk menikmati klepon buatannya.
"Tahu ada postingan kalau klepon katanya tidak Islami. Tapi penjualan tetap seperti biasa. Tidak terpengaruh sama postingan itu," tutur pria yang juga menjual jajanan tradisional lain seperti cenil, putu, dan onde-onde.
Omzet kotor dalam sehari usahanya, mencapai Rp 1,5 juta. Jumlah tersebut menurun lantaran pandemi corona. Biasanya sebelum ada COVID-19 ia mampu mengantongi Rp 2 juta hingga Rp 3 juta dalam sehari.
"Memang, awal-awal corona sepi jadi cuma Rp1,5 jutaan," katanya.
Penjual klepon di Jalan Urip Sumoharjo, Gondokusuman, Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji
Sementara salah seorang karyawan swasta di Yogyakarta bernama Nova Nendi, justru ingin memanfaatkan viralnya klepon untuk berjualan. Ia melihat ada potensi bisnis dalam makanan berbentuk bulat berwana hijau tersebut.
ADVERTISEMENT
"Saya malah punya rencana jualan. Saya memang suka makanan tradisional. Rencana pingin online," ujar perempuan 25 tahun itu.

MUI Minta Aparat Usut soal Viral Klepon Tak Islami

Sebelumnya, MUI ikut angkat bicara soal foto kue klepon bertuliskan 'Tidak Islami' yang sempat viral. Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam, menegaskan aparat perlu mengusut baik pengunggah dan penyebar konten tersebut.
Ia menambahkan, pengusutan itu termasuk kepada elemen masyarakat yang menjadikan berita bohong itu sebagai bahan olok-olokan yang menimbulkan permusuhan, kegaduhan, dan kebencian atas dasar suku, agama, ras, dan antar golongan.
****
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)