Menristek: Vaksin Merah Putih Dipakai saat Vaksinasi Ulang 1-2 Tahun Lagi

28 Januari 2021 12:27 WIB
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Peneliti dari 6 lembaga dan perguruan tinggi masih terus mengembangkan vaksin Merah Putih dalam upaya pemenuhan kebutuhan vaksin corona dalam negeri. Terbaru, Lembaga Eijkman akan menyerahkan bibit vaksin Merah Putih ke Bio Farma pada 2021.
ADVERTISEMENT
Meski pengadaan vaksin dalam negeri terlambat, Menristek BRIN Bambang Brodjonegoro memastikan vaksin Merah Putih tetap akan ikut andil dalam pemberian vaksinasi kepada masyarakat Indonesia.
"Untuk memenuhi [kebutuhan], meskipun kita belum partisipasi di awal, insyaallah vaksin Merah Putih akan ikut berpartisipasi. Tidak hanya program vaksinasi tahap awal yang diperkirakan berlangsung sepanjang tahun ini dan tahun depan," jelas Bambang dalam rapat koordinasi Kemenristek/BRIN secara virtual, Kamis (28/1).
Bambang menuturkan, upaya pemberian vaksinasi dengan vaksin Merah Putih ini dilakukan untuk memenuhi target vaksinasi 2/3 jumlah penduduk Indonesia. Jumlah penduduk yang akan diberi vaksin berkisar sekitar 180 juta orang, sehingga dibutuhkan 360 juta dosis vaksin corona.
Menteri Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Selasa (5/11). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Ia berharap kehadiran vaksin Merah Putih dapat melanjutkan kekebalan kelompok (herd immunity) dari proses vaksinasi tahap awal yang saat ini sudah berlangsung dengan vaksin CoronaVac dari Sinovac.
ADVERTISEMENT
"Diharapkan vaksin Merah Putih bisa menjaga sustainability atau menjaga herd immunity dengan vaksinasi tahap awal. Mengingat kemungkinan daya tahan tubuh dari vaksin COVID-19 dari perusahaan belahan dunia, kemungkinan tidak bertahan selamanya," ucap Bambang.
"Sehingga dimungkinkan ada vaksinasi ulang atau boost ring, yang mungkin dilakukan tahun depan atau dua tahun lagi. Di tahapan booster, disitulah vaksin Merah Putih bisa pegang kembali," lanjut dia.
Tak sampai di situ, ia juga berharap ada perusahaan swasta lain yang mau bergabung dalam pengembangan vaksin Merah Putih, di luar 6 platform dalam konsorsium Eijkman yang tengah mengembangkannya.
Peneliti perempuan di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang meneliti DNA COVID-19. Foto: L'Oreal Indonesia dan Eijkman
"Kita juga harapkan dan mengundang perusahaan swasta lain untuk berpartisipasi dalam industri pengembangan vaksin," tutup Bambang.
Peneliti dalam negeri lewat konsorsium Lembaga Eijkman telah mengembangkan vaksin Merah Putih sejak tahun lalu. Terdapat enam platform pengembang vaksin ini, yakni Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Lembaga Eijkman, serta LIPI.
ADVERTISEMENT
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, juga telah menyebut bahwa bibit vaksin Merah Putih batch pertama akan diserahkan ke Bio Farma pada Maret 2021.
Vaksin Merah Putih sendiri ditargetkan dapat diproduksi massal mulai awal 2022, atau setelah mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) dari BPOM.