Kemlu RI Ungkap Niat Israel, Ingin Usir Warga Palestina dari Yerusalem

18 Juni 2021 17:42 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Warga Israel mengibarkan bendera di gerbang Damaskus di luar Kota Tua Yerusalem, di Yerusalem, Selasa (15/6). Foto: Ronen Zvulun/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga Israel mengibarkan bendera di gerbang Damaskus di luar Kota Tua Yerusalem, di Yerusalem, Selasa (15/6). Foto: Ronen Zvulun/REUTERS
ADVERTISEMENT
Konflik antara Israel dengan Palestina hingga hari ini masih belum menemukan titik terang. Meski dengan bantuan berbagai pihak internasional, pendudukan Israel di wilayah Palestina masih tetap kukuh.
ADVERTISEMENT
Direktur Jenderal Asia Pasifik Kemlu RI, Abdul Kadir Jailani, menjelaskan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, menghendaki perdamaian abadi antara keduanya, dengan kemerdekaan Palestina menjadi elemen utama.
“Begini, permasalahannya, perdamaian ini, banyak orang salah paham. Perdamaian itu macam apa? Perdamaian yang berkeadilan, perdamaian yang menghormati hak-hak Palestina. Itu yang paling penting,” ujar Abdul ketika dihubungi kumparan, Jumat (18/6).
Sayangnya, menurut Abdul, cita-cita kemerdekaan dan perdamaian itu menemui hambatan. Sebab, Israel punya niat buruk kepada warga dan Pemerintah Palestina di Yerusalem.
“Saat ini maunya pihak Israel itu, ‘Lu pergi aja deh dari Yerusalem, sudah,’” ungkap Abdul.
Seorang wanita Palestina berdebat dengan pria Israel, di tengah prosesi pengibaran bendera di Gerbang Damaskus, tepat di luar Kota Tua Yerusalem, Selasa (15/6). Foto: Ammar Awad/REUTERS
Itulah mengapa, Indonesia mengharapkan adanya perdamaian yang bisa memenuhi hak-hak bangsa Palestina, yakni dengan tercapainya kemerdekaan Palestina.
ADVERTISEMENT
Abdul turut memaparkan posisi Indonesia dalam konflik Israel-Palestina. Indonesia, menurutnya, adalah negara yang mengecam dengan keras segala tindak penjajahan, sehingga dukungan Indonesia terhadap perdamaian dan kemerdekaan Palestina akan terus berlanjut.
“Saat ini, harapan Indonesia hanya satu, perdamaian berdasarkan two-state solution sesuai dengan parameter internasional. Kalau itu terwujud, itu yang kita harapkan. Perdamaian abadi antara Palestina dan Israel, di mana elemen utama dari perdamaian itu adalah kemerdekaan Palestina,” jelasnya.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Abdul Kadir Jailani. Foto: Dok. Kementerian Luar Negeri
“Jadi, kita maunya itu ada perdamaian yang ada parameternya. Satu, Yerusalem sebagai Ibu Kota [Palestina]; kedua, penghentian illegal settlement [pendudukan ilegal oleh Israel]; ketiga, hak rakyat Palestina untuk kembali ke tanah airnya. Kan mereka sudah terusir semua,” pungkasnya.

Respons Indonesia Terhadap Ajakan Diskusi oleh Israel

Seperti diketahui, Duta Besar Israel untuk Singapura, Sagi Karni, sempat menyatakan kebersediaannya untuk membuka hubungan dengan tiga negara mayoritas Muslim di Asia Tenggara, salah satunya adalah Indonesia.
ADVERTISEMENT
Menurut Abdul, sikap Indonesia terhadap Israel sudah sangat jelas, pun termasuk ajakan diskusi dan perundingan oleh Israel.
Masyarakat Palestina saat menghadiri perayaan anti-Israel di Jalur Gaza utara, Minggu (30/5). Foto: Mohammed Salem/Reuters
“16 Desember lalu Presiden Jokowi secara khusus menelepon Presiden Palestina, yang pada dasarnya Pak Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak punya niatan sama sekali untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel sampai terwujudnya perdamaian abadi dan komprehensif antara rakyat Palestina dengan Israel,” tegas Abdul.
Ia mengungkapkan bahwa Indonesia berfokus pada Solusi 2 Negara [two-state solution] sebagai jalan untuk mencapai perdamaian Palestina. Solusi 2 Negara ini adalah sebuah rancangan untuk membentuk dua negara bagi dua bangsa, yakni negara Palestina dan Israel.
Tetapi, ancangan ini masih menemui jalan buntu karena menurut Abdul, Israel menolak solusi tersebut.
ADVERTISEMENT
“Sebenarnya yang lebih dipentingkan itu diskusi perundingan antara Palestina dengan Israel. Yang penting itu mereka harus berbicara, itu masalahnya kan, sehingga ada penjajahan. Itu fundamental,” pungkas Abdul.