Forum Dosen: Gaji Dosen SBM Layak Rp 20 Juta, Tak Ada yang Kerja Ketengan

21 Maret 2022 19:31 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pekerja melintas di depan Gedung Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB di Kawasan Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/3). Foto: Novrian Arbi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja melintas di depan Gedung Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB di Kawasan Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/3). Foto: Novrian Arbi/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Forum Dosen SBM ITB menghadiri rapat dengar bersama Komisi X DPR RI terkait kisruh dengan rektorat ITB soal swakelola sekolah bisnis itu.
ADVERTISEMENT
Dalam rapat ini, perwakilan Forum Dosen SBM ITB Sudarso Kaderi Wiryono menjelaskan, sejak awal berdiri, SBM diberikan kewenangan swadana untuk mencari dana sendiri. Karena mengelola dana sendiri, sehingga memperlakukan dosen sebagai aset utama SBM dan diberikan gaji tinggi.
“Kami percaya SBM bisa maju kalau mampu menggerakkan potensi yang dimiliki dosen-dosen. Jadi kami memperlakukan dosen sebagai aset utama. Namun di sini, kami juga mengikat dosen supaya bekerja penuh waktu. Tidak boleh bekerja di sekolah yang lain, tidak boleh mangkir, kecuali kalau ada tugas-tugas di luar itu dan semuanya atas izin. Kita anggap dosen sebagai asset dan investasi. Tanpa pengembangan dosen, SBM tidak berkembang,” kata dia, Senin (21/3)
Sudarso juga menambahkan, sejak awal FD SBM berkomitmen membuat dosen hidup layak dengan kebutuhan gaji yang diperlukan.
ADVERTISEMENT
“Saat awal berdiri ada istilah, kamu bisa hidup dengan layak itu butuh uang berapa? Nah di situlah terjadi deal, saya sejak 2003 mengatakan kalau bisa hidup layak, saya mau gaji Rp 20 juta. Itu komitmen kita. Jadi nggak ada lagi jam-jam-an, hitung-hitungan atau pekerjaan seperti tukanglah. Kepemimpinannya sangat terbuka, karyawan, dan dosen diberi ruang untuk memberi masukan. Maka lahirlah organisasi inovatif, yang mana dosen-dosen nya berlomba memberikan return,” kata dia
Lebih lanjut Sudarso mengatakan, kini SBM ITB memiliki 98 Dosen tetap, 100 lebih karyawan dan lebih dari 4 ribu mahasiswa, yang diawali dengan hanya memiliki 150 mahasiswa dengan 15 karyawan.
Terkait anggaran, kini SBM ITB bisa menghasilkan revenue sebanyak Rp 170 Miliar yang sudah jauh lebih tinggi dibandingkan saat awal mula berdiri pada tahun 2003 yang hanya Rp 200 hingga Rp 300 juta per tahun,
ADVERTISEMENT
“Ada beberapa hal tentang kebijakan umum dan kebijakan Tri Dharma, terutama pendidikan. Kami menekankan ke dosen bahwa kuliah tidak boleh diganti, mundur, lebih kurang yang dijanjikan silabus. Jadi kami katakan itu sakral. Semua atas dasar organisasi, nggak ada dosen yang kerjanya ketengan. Itu nilai-nilai yang kami anut,” sambungnya.
Dia tak menyebut apa yang dimaksud dengan kerja dosen ketengan itu. Lebih lanjut, Sudarso menilai, dengan kebijakan itulah FD SBM ITB mampu hidup dan mengembangkan SBM sejak tahun berdirinya, hingga kini mendapat akreditasi internasional.
“Dengan pengalaman ini kami merasa ada sesuatu yang cukup benar kami lakukan, kami bisa bergerak karena ada kemandirian dalam ruh kami. Dengan ruang ini para dosen energinya sangat luar biasa, mereka bisa membangun di dalam, serta berkiprah di dalam juga luar, sehingga kemandirian jadi prasyaratnya. Itu kepercayaan kami,” kata dia.
ADVERTISEMENT
Apa yang disampaikan Sudarso itu terkait polemik kisruh rektorat dan SBM ITB yang terjadi beberapa waktu lalu. Sebelumnya ITB hendak mencabut swakelola SBM ITB.
Belakangan pencabutan itu urung dan SBM ITB dengan rektorat sepakat menegosiasikan aturan-aturan yang telah dikeluarkan Rektor agar menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Reporter : Ulfah Salsabila