Dukung Rusia, Suriah Putus Hubungan Diplomatik dengan Ukraina

20 Juli 2022 14:43 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Presiden Suriah Bashar al-Assad Foto: SANA/Handout via Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Suriah Bashar al-Assad Foto: SANA/Handout via Reuters
ADVERTISEMENT
Suriah mengumumkan pada Rabu (20/7/2022), pihaknya memutuskan hubungan diplomatik dengan Ukraina. Tindakan ini diambil untuk mendukung sekutu dekatnya, Rusia.
ADVERTISEMENT
"Republik Arab Suriah telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan diplomatik dengan Ukraina sesuai dengan prinsip timbal balik dan sebagai tanggapan atas keputusan pemerintah Ukraina," ujar seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Suriah, dikutip dari AFP, Rabu (20/7/2022).
Suriah mengambil langkah itu sebagai tanggapan terhadap tindakan serupa dari Kiev. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, terlebih dahulu mengumumkan keputusannya untuk mengakhiri hubungan diplomatik dengan Suriah pada akhir Juni.
"Tidak akan ada lagi hubungan antara Ukraina dan Suriah," tegas Zelensky.
Militer Rusia mengibarkan bendera Rusia dan separatis yang memproklamirkan diri sebagai Republik Rakyat Luhansk (LNR) di luar cabang bank Oschad di Stanytsia Luhanska, Luhansk, Ukraina. Foto: Alexander Ermochenko/REUTERS
Pernyataan tersebut menyusul pengakuan Suriah terhadap Donetsk dan Luhansk. Kremlin telah mengakui kemerdekaan dua wilayah separatis itu pula pada Februari. Kini, daerah yang membentuk wilayah Donbass itu menjadi pusat invasi Rusia di Ukraina.
"Kami akan berkomunikasi dengan [Donetsk dan Luhansk] untuk menyepakati kerangka kerja untuk memperkuat hubungan, termasuk menjalin hubungan diplomatik sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan," terang pejabat Kemlu Suriah, dikutip dari Al Arabiya.
ADVERTISEMENT
Pemerintah Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengandalkan dukungan Rusia. Moskow merupakan pendukung utamanya dalam perang saudara yang telah berlangsung selama satu dekade di Suriah.
Pada 2018, Assad telah mengakui dua republik lain yang turut memisahkan diri dan menerima dukungan dari Rusia.
Abkhazia dan Ossetia Selatan diakui sebagai bagian dari Georgia secara secara internasional. Tetapi, Rusia dan sejumlah negara lain mengakui kemerdekaan mereka. Georgia sendiri memperoleh kemerdekaannya dari Uni Soviet pada 1991.