Atlet Sepatu Roda Dikecam Pemerintah Iran usai Berkompetisi Tanpa Hijab

8 November 2022 19:24 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Niloufar Mardani dari Iran beraksi selama Perlombaan Penghapusan Poin+10000m Roller Sports Women di Velodrome Guangzhou pada hari kedua belas Asian Games ke-16 Guangzhou 2010 pada 24 November 2010 di Guangzhou, Cina. Foto: Richard Heathcote/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Niloufar Mardani dari Iran beraksi selama Perlombaan Penghapusan Poin+10000m Roller Sports Women di Velodrome Guangzhou pada hari kedua belas Asian Games ke-16 Guangzhou 2010 pada 24 November 2010 di Guangzhou, Cina. Foto: Richard Heathcote/Getty Images
ADVERTISEMENT
Kementerian Olahraga Iran mengecam seorang atlet sepatu roda perempuan, Niloufar Mardani, lantaran mengikuti kompetisi di Turki tanpa mengenakan hijab pada Selasa (8/11).
ADVERTISEMENT
Mardani menerima penghargaan dalam perlombaan di Istanbul pada Minggu (6/11). Dalam kompetisi tersebut, dia melepaskan hijab dan mengenakan pakaian serba hitam yang menampilkan kata 'Iran'.
Mardani telah menjadi anggota tim nasional seluncur cepat selama lebih dari satu dekade. Tetapi, Kementerian Olahraga Iran menegaskan, Mardani sudah meninggalkan tim nasional.
Sehingga, dia berkompetisi secara pribadi di Istanbul. Tim nasional Iran pun tidak berpartisipasi dalam acara ini. Mardani dikatakan mengikuti perlombaan tanpa mendapatkan izin dari pemerintah.
"Mardani mengambil bagian dalam kompetisi skating di Turki tanpa izin," jelas pernyataan Kementerian Olahraga Iran, dikutip dari AFP, Selasa (8/11).
"Atlet ini tidak mengenakan pakaian yang disetujui oleh kementerian dan dia tidak menjadi anggota tim nasional sejak bulan lalu," imbuhnya.
Foto Mahsa Amini di luar Gedung Federal Wilshire Los Angeles, California, AS. Foto: Bing Guan/REUTERS
Iran mewajibkan atlet perempuannya mengenakan hijab bahkan dalam kompetisi yang berlangsung di luar negeri. Walau begitu, sejumlah atlet seperti Mardani telah menentang aturan ketat tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Mahsa Amini.
ADVERTISEMENT
Selama hampir dua bulan, protes anti-pemerintah mengguncang Iran. Demonstrasi massal itu dipicu kematian Amini pada 16 September.
Perempuan etnis Kurdi berusia 22 tahun tersebut meninggal dunia dalam keadaan koma usai ditahan Polisi Moral Iran.
Dia ditahan hanya karena menampilkan sedikit rambut saat berkunjung ke Teheranpada 13 September.
Dugaan penyiksaan terhadap Amini selama tahanan kemudian mengobarkan amarah di seluruh Iran. Para perempuan memotong rambut dan melepas hijab mereka untuk melawan rezim.
Atlet panjat tebing asal Iran, Elnaz Rekabi. Foto: Instagram/@elnaz.rekabi
Atlet perempuan turut menunjukkan solidaritas mereka. Selain Mardani, atlet panjat tebing bernama Elnaz Rekabi juga berkompetisi di Seoul hanya dengan mengenakan bandana pada Oktober. Ketika pulang ke tanah air, Rekabi disambut sebagai pahlawan.
Kendati demikian, dia tiba-tiba meminta maaf. Rekabi mengaku bahwa hijabnya terlepas secara tidak sengaja. para aktivis meyakini, pernyataan itu terpaksa dibuat karena tekanan otoritas Iran.
ADVERTISEMENT
Menurut Al Jazeera, Rekabi adalah atlet perempuan kedua yang berkompetisi di luar negeri tanpa mematuhi aturan berpakaian ketat Iran. Atlet lainnya adalah petinju bernama Sadaf Khadem yang mengalahkan Anne Chauvin dalam kompetisi di Prancis pada 2019.
"[Rekabi] dipaksa untuk membuat pernyataan ini oleh pihak berwenang yang terus-menerus menggunakan pengakuan paksa dan televisi," ujar aktris Inggris asal Iran yang juga duta besar untuk Amnesty International di Inggris, Nazanin Boniadi.