Bayi Prematur Jadi Tantangan Stunting di Indonesia, Bagaimana Mencegahnya?

5 April 2022 13:01 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi lahir prematur berisiko stunting. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi lahir prematur berisiko stunting. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Kondisi anak gagal tumbuh akibat kekurangan gizi atau stunting masih menjadi persoalan yang harus dituntaskan. Stunting tidak hanya akan menyebabkan gangguan fungsi kognitif dan penurunan sistem imun, tetapi juga berpotensi membuat tinggi anak menjadi lebih rendah dan di bawah rata-rata dari standar usianya.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya masalah stunting bisa dicegah sejak masa kehamilan dengan mengurangi kelahiran prematur. Ya Moms, salah satu faktor terjadinya stunting adalah kelahiran bayi prematur. Kondisi bayi lahir prematur ini bisa disebabkan oleh faktor gizi buruk hingga kebiasaan buruk seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol yang dilakukan selama kehamilan.
“Lahirnya bayi-bayi sebelum waktunya atau prematur sangat berkontribusi pada lahirnya anak stunting," kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dalam diskusi virtual 'Forum Merdeka Barat (FMB9) Cegah Stunting, Tingkatkan Daya Saing', beberapa waktu lalu.
Ilustrasi bayi lahir prematur berisiko stunting. Foto: Thinkstock
Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2018, ternyata kelahiran bayi prematur masih cukup tinggi, Moms. Jumlahnya masih sekitar 29,5 persen. Selain kelahiran prematur, sebanyak 22,6 persen bayi juga berpotensi lahir dalam keadaan stunting karena memiliki berat badan kurang dari 48 sentimeter saat kelahiran. Hal ini disebabkan pertumbuhan yang lambat ketika janin di dalam kandungan.
ADVERTISEMENT
Persoalan stunting inilah yang sedang menjadi tantangan pemerintah untuk bisa segera diatasi dengan memberikan intervensi. “Bisa dibayangkan ada hampir seperempat lebih orang hamil melahirkan sebelum waktunya. Ini juga menjadi kendala,” ucap Hasto.

Mencegah Stunting pada Anak

Ilustrasi bayi prematur berisiko stunting. Foto: Shutterstock
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bayi lahir dengan berat badan rendah berisiko lebih besar mengalami stunting dan tumbuh kembangnya akan terganggu. Selain berat badan rendah, anak dengan stunting juga biasanya mengalami pertumbuhan gigi dan tulang yang terlambat, dan berisiko mengalami diabetes dan penyakit jantung.
"Inilah sebabnya mengapa mengurangi berat badan lahir rendah membutuhkan pemahaman tentang penyebab mendasar di masing-masing negara. Kelahiran prematur adalah penyumbang utama kasus berat badan bayi lahir rendah. Sehingga, memahami penyebab dan cara mengatasinya di tiap negara perlu menjadi prioritas," kata Koordinator Unit Penilaian dan Pengawasan Pertumbuhan Departemen Gizi WHO, Dr Mercedes de Onis.
ADVERTISEMENT
Simak anjuran WHO kepada pemerintah dan calon ibu bisa menghindari kelahiran bayi prematur yang bisa menyebabkan stunting:
1. Perhatikan Gizi Sejak Awal Hamil
Bagi Anda yang sedang program hamil atau tengah mengandung, ada baiknya untuk selalu memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsi. Makanlah makanan yang kaya gizi dan nutrisi seperti sayuran, serta hindari makanan instan dan junk food.
Ilustrasi ibu hamil. Foto: Shutter Stock
2. Dukungan Sosial
Keluarga dan orang-orang sekitar berperan penting bagi Anda selama masa kehamilan. Bila terganggu dengan situasi lingkungan sekitar, seperti banyak orang merokok, sampah tidak dibersihkan dan lainnya, bicaralah dengan mereka. Dengan diberi dukungan oleh orang-orang terdekat, ibu hamil bisa merasa lebih tenang. Jangan ragu meminta mereka ikut memperhatikan kebutuhan nutrisi Anda.
ADVERTISEMENT
3. Rutin Kontrol Kehamilan
Memeriksakan kehamilan dengan tenaga medis secara berkala bisa membantu kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Kondisi bayi saat di kandungan bisa terus dipantau hingga menjelang masa persalinan. Ketika sudah lahir pun apabila ingin mengetahui apakah si kecil mengalami stunting atau tidak, bisa diperiksakan di puskesmas atau rumah sakit.
4. Akses Kesehatan yang Memadai
Penting bagi pemerintah untuk menyediakan perawatan ibu hamil yang memadai. Perawatan kesehatan yang terjangkau, mudah diakses dan tepat sasaran, diyakini bisa mencegah bayi lahir prematur.