Usai Rilis New Kid In Town, Mario Dead Bachelors Harus Jalani Hipnoterapi

18 Agustus 2020 14:00 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Grup musik Dead Bachelors. Foto: Instagram/@Dead Bachelors
zoom-in-whitePerbesar
Grup musik Dead Bachelors. Foto: Instagram/@Dead Bachelors
ADVERTISEMENT
Grup musik Dead Bachelors baru saja merilis mini album mereka yang berjudul New Kid In Town. New Kid In Town ini merupakan mini album kedua dari grup yang beranggotakan Mario Pratama dan Narendra Pawaka alias Eda.
ADVERTISEMENT
Namun, setelah Dead Bachelors merilis mini album tersebut, salah satu personelnya, Mario, harus menjalani hipnoterapi. Perihal ini disampaikan langsung oleh rekannya, Eda, dalam acara Karnaval Kemerdekaan yang tayang di kanal YouTube kumparan, Senin (17/8).
Eda mengatakan bahwa Mario kini tengah mengalami New Kid In Town Fever.
“Kita punya EP satu, judulnya New Lover itu cerita tentang Eda, kalau New Kid In Town EP kedua, cerita tentang Mario. Jadi, kayaknya dia lagi kena New Kid In Town Fever nih,” kata Eda.
Dead Bachelors mengisi virtual talk di acara Karnaval Kemerdekaan kumparan
Menurut Eda, saat ini rekannya seperti sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Mario, lanjut Eda, justru kerap merasa 'kecil' ketika album tersebut dirilis.
“Jadi, abis rilis EP 2 malah ngerasa kecil, merasa enggak bisa apa-apa. Sampai dia harus, ‘kayaknya harus break bentar, gue harus hipnoterapi’,” tutur Eda mengikuti obrolannya bersama Mario.
ADVERTISEMENT
Eda kemudian menceritakan, New Kid In Town memang bercerita tentang perasaan seoranng anak yang datang ke tempat yang baru. Tak jarang mereka harus menerima perundungan dan hujatan di tempat baru.
Dead Bachelors di acara Karnaval Kemerdekaan kumparan
Hanya saja, Eda menegaskan Mario tidak mengalami bully. Tapi, Eda menilai Mario seperti terabawa perasaan menjadi sosok yang di-bully.
“Ceritanya kan tentang anak terbully. Lo bisa dikatain orang, banyak dihujat, dan orang bisa buat lo merasa kecil namanya, tapi namanya manusia harus bangkit lagi setelah jatuh,” ungkap Eda.
“Iya (Mario kebawa). Kadang gitu banyak cerita anak band yang malah dalam proses bikin sebuah album mereka bubar, atau dalam proses promo album mereka malah berantem. Nah, ini mungkin salah satu efeknya,” tambahnya.
Grup musik Dead Bachelors. Foto: Instagram/@Dead Bachelors
Lebih lanjut, Eda menceritakan momen yang paling dia kenang dari penggarapan album itu. Pada saat penggarapan, Eda katanya, sempat mengalami demam.
ADVERTISEMENT
“Gue sama Mario kebetulan ada event di Bali. Jadi, kita record di Bali bareng sama Andreas Arianto. Yang gue kaget ternyata di saat terpuruk banget, karena enggak bisa nyanyi, gue demam sampai 40 derajat, tapi itu gue bisa menghasilkan 3 rekaman vocal,” kenangnya.
Dari situ dia dan Mario melihat bahwa seterpuruk apa pun kondisi yang dialami, selalu ada peluang untuk bisa kembali bangkit. Eda menilai hal ini juga menggambarkan bahwa masa pandemi COVID-19 sebetulnya bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Eda mengaku bahwa di masa pandemi ini, Dead Bachelors terus berkarya. Mereka bahkan juga sudah melakukan listening session dengan pihak label yang menaunginya. Ada 14 track yang telah mereka setorkan kepada pihak label.
ADVERTISEMENT
“Sekarang kita lagi milih mana yang masuk ke album perdananya Dead Bachelors. Ini nanti kita juga masih mikirin message apa yang dibawa, karena dalam pembuatan album kita harus kasih message yang dibawa sama albumnya,” pungkas Eda.