Winger Crystal Palace: Boikot Media Sosial adalah Awal Perlawanan

1 Mei 2021 6:56 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pesan anti-rasialisme UEFA. Foto: AFP/Ben Stansall
zoom-in-whitePerbesar
Pesan anti-rasialisme UEFA. Foto: AFP/Ben Stansall
ADVERTISEMENT
Aksi boikot media sosial klub-klub Liga Inggris mendapat dukungan dari sejumlah pemain. Salah satunya datang dari pemain sayap Crystal Palace, Andros Townsend.
ADVERTISEMENT
Menurut Townsend langkah ini akan memberikan sinyal teguran bagi perusahaan yang bergerak media sosial. Sebab, jika dalam, kurun tiga hingga empat hari tak ada aktivitas di media sosial, bukan tak mungkin sesuatu yang buruk terjadi.
''Ini adalah awal dari perlawanan. Saya bangga dengan para pemain yang mendukung gerakan ini. Akhirnya kami menemukan cara untuk berbicara,'' kata Townsend dalam wawancaranya bersama BBC.
Pemain Tottenham Hotspur Son Heung-min berebut bola dengan pemain Crystal Palace Andros Townsend pada lanjutan Premier League di Stadion Selhurst Park, London, Inggris. Foto: Warren Little/REUTERS
Townsend menyadari bahwa langkah melakukan boikot ini memang tak akan berpengaruh banyak. Namun, satu pesan khusus kiranya bisa tersampaikan kepada para perusahaan media sosial.
''Ini menjadi peringatan kepada perusahaan-perusahaan yang bergerak di media sosial. Jika Anda tidak mulai mengatur platform Anda, itu akan menjadi aksi boikot yang akan berlarut-larut,'' Townsend menambahkan.
ADVERTISEMENT
Aksi gerakan boikot media sosial ini dilakukan untuk membangkitkan kesadaran tentang serangan ujaran kebencian secara daring. Pasalnya, banyak pesepak bola di Inggris yang kerap mendapat ancaman rasialisme di media sosial.
Wilfried Zaha dari Crystal Palace berdiri saat Matt Phillips dari West Bromwich Albion berlutut untuk mendukung kampanye Black Lives Matter sebelum pertandingan. Foto: Mike Hewitt/Reuters
Salah satunya adalah kompatriot Townsend di Crystal Palace, Wifried Zaha. Pemain Pantai Gading ini bahkan sudah muak dengan lontaran rasialis yang diterimanya.
Premier League sendiri mendukung aksi pemberantasan ujaran kebencian. Dalam kampanye mereka, sesaat sebelum pertandingan, seluruh elemen pertandingan melakukan aksi Black Lives Matter dengan berlutut sesaat sebelum pertandingan.
Namun, Zaha sudah tak lagi melakukan hal tersebut. Per Maret 2021, saat Palace bertemu West Brom, Zaha memilih tak melakukan kampanye terinspirasi dari kasus yang menimpa George Floyd yang menjadi korban rasialisme oleh kepolisian Amerika.
ADVERTISEMENT
''Orang-orang mulai gagal untuk melihat relevansi dari berlutut: 'Ini adalah sikap yang sembrono, tidak berarti apa-apa, tidak ada yang dilakukan','' kata Townsend.
"Tidak ada ruang untuk rasisme di Premier League." Foto: REUTERS/Phil Noble EDITORIAL
''Tapi jika fan benar-benar kembali [ke stadion] musim depan dan kami mendengar ejekan kembali, itu akan menunjukkan pentingnya mengambil berlutut dan melakukan kampanye. Mudah-mudahan itu tidak terjadi dan akhirnya bisa menjadi aksi yang positif,'' dia menjelaskan.
Klub-klub Liga Inggris akan melakukan boikot media sosial. Rencananya, boikot itu akan dimulai pada Jumat (30/4) pukul 21:00 WIB hingga Selasa (4/5) pukul 05:59 WIB.
---