Tony Sucipto yang Membangun Karier dan Cinta di Sriwijaya

4 Juli 2019 9:09 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pemain Persija Jakarta Tony Sucipto (kiri) berebut bola dengan pemain Borneo FC dalam pertandingan semifinal leg pertama Piala Indonesia di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Persija Jakarta Tony Sucipto (kiri) berebut bola dengan pemain Borneo FC dalam pertandingan semifinal leg pertama Piala Indonesia di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
ADVERTISEMENT
Tony Sucipto tak bisa menyembunyikan kesedihannya tatkala Sriwijaya FC dipastikan terdegradasi ke Liga 2 pada akhir tahun lalu. Lewat akun Instagram-nya, ia lantas mengunggah foto berserta caption yang berisi dukungan agar Sriwijaya segera bangkit.
ADVERTISEMENT
"Bangkit. Meski baru 14 tahun berdiri, Sriwijaya FC adalah tim dengan banyak prestasi," tulis pemain Persija Jakarta itu.
Apa yang Tony tunjukkan ini bukan sekadar retorika. Sebab, klub yang bermarkas di Palembang itu merupakan klub profesional pertamanya.
Tony bahkan sudah menjadi bagian dari Sriwijaya FC saat klub tersebut masih bernama Persijatim Solo FC. Pada 2004, klub itu di-takeover pemerintah Sumatera Selatan dan diubah namanya menjadi Sriwijaya FC.
Pergantian nama menjadi Sriwijaya inilah yang kemudian mengubah peruntungan klub tersebut. Lebih dari itu, pergantian nama ini pula yang mengubah peruntungan Tony. Selama enam musim berseragam Sriwijaya, ia berkembang dalam banyak hal. Kemampuannya terus-menerus meningkat, namanya pun kian mencuat.
Selain itu, tak kurang dari empat gelar mayor berhasil ia peroleh. Rinciannya adalah satu gelar juara Liga Indonesia (2007) serta tiga gelar Piala Indonesia (2007, 2008, 2009) yang diraih secara berturut-turut.
ADVERTISEMENT
Dari semua gelar itu, tentu saja gelar juara Liga Indonesia menjadi yang paling berkesan. Tak hanya karena merupakan gelar pertama, hal tersebut juga amat berarti lantaran dicapai lewat proses yang tak mudah. Terlebih, mereka merupakan tim yang masih bau kencur hingga beberapa kali sempat diremehkan.
Hal lain yang juga membuat capaian juara Liga Indonesia berkesan adalah karena Tony berhasil menyandingkannya dengan gelar Piala Indonesia. Ya, double winner. Capaian itu adalah yang kali pertama mampu dilakukan oleh sebuah klub Tanah Air. Hingga kini, belum ada lagi yang bisa menyamainya.
Karena itu, tak berlebihan jika Tony sedih bukan kepalang tatkala melihat mantan timnya tersebut terdegradasi. Ia memang sudah sembilan tahun meninggalkan Sriwijaya, sudah sangat lama. Tapi, cintanya masih tertaut di Palembang.
ADVERTISEMENT
Bek Persija, Tony Sucipto, dalam sesi jumpa pers sebelum bersua Bali United di babak 8 besar Piala Indonesia. Foto: Dok. Media Persija
Omong-omong soal cinta, ini tak cuma soal cintanya kepada Sriwijaya FC. Lantas, soal cinta apa lagi?
Untuk menjawabnya, kita mesti kembali mundur menuju 2011 silam. Itu adalah tahun saat Tony, yang kala itu sudah bermain untuk Persija Jakarta --periode pertama, melamar Lidya Saputri yang hingga kini menjadi istrinya.
Lidya adalah wanita asal Sekayu, Palembang. Pernikahannya bahkan juga digelar di kota yang populer dengan sebutan Kota Pempek itu. Karenanya, sekali lagi, kesedihan yang Tony tunjukkan benar-benar beralasan dan itu tak sedikit.
"Sriwijaya adalah tim yang besar meski masih baru. Semoga tahun depan mereka sudah bisa kembali bermain di Liga 1," ucap Tony usai pertandingan melawan PSS Sleman, Rabu (3/7/2019).
ADVERTISEMENT