COVER- Lipsus Gandum Terimbas Rusia vs Ukraina- Perang

Kala Gandum Terimbas Perang Rusia-Ukraina (1)

16 Juni 2022 15:15 WIB
·
waktu baca 10 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sekitar 30 juta ton biji-bijian hasil panen para petani tahun lalu terjebak di silo-silo pelabuhan Ukraina yang terhubung langsung dengan Laut Hitam. Kondisi itu membuat lebih dari separuh gudang penyimpanan biji-bijian Ukraina masih terisi dari total kapasitas 55 juta ton.
Menurut Ketua Asosiasi Biji-bijian Ukraina Mykola Gorbachov, hanya tersisa 13-15 ton kapasitas penyimpanan untuk menampung stok. Artinya, ini berpotensi membuat tanaman biji-bijian panen tahun ini tak terangkut, lantaran tak ada lagi gudang penyimpanan yang tersisa.
Di antara biji-bijian itu, ada stok gandum yang masih tertahan. Biji gandum acap digunakan sebagai bahan baku makanan sehari-hari seperti tepung terigu, roti, hingga mi instan. Pasokan yang tersendat membuat stok bahan makanan ini ikut terganggu.
Gandum terlihat di ladang dekat desa Zhovtneve, Ukraina. Foto: Valentyn Ogirenko/REUTERS
Kekacauan ini bermula kala adanya blokade jalur Laut Hitam oleh Rusia semenjak negara itu menginvasi Ukraina. Kapal-kapal pengangkut hasil pertanian seperti gandum dari Ukraina tak bisa melintas. Imbasnya, menurut Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, dunia terancam kelaparan.
“Ada cukup makanan untuk semua orang di dunia, akan tetapi masalahnya terletak pada distribusi,” terang Guterres berpidato di pertemuan Dewan Keamanan PBB, 22 Mei lalu.
Guterres mewanti-wanti bahwa invasi Rusia ke tetangganya telah secara efektif mengakhiri ekspor makanan dari Ukraina. Hal ini membuat harga makanan naik 30 persen dan mengancam orang-orang di negara-negara Afrika dan Timur Tengah.
Faktanya, Ukraina merupakan negara pengekspor gandum terbesar ke-4 di dunia. Pada tahun 2021, berdasarkan data dari International Trade Centre, negara yang dijuluki ‘Keranjang Roti Eropa’ itu mengekspor 19,35 juta ton gandum ke seluruh dunia.
Sementara negara yang kini sedang menginvasi Ukraina, Rusia, turut mengekspor 26,94 juta ton gandum. Jika digabungkan, kedua negara yang tengah berperang tersebut mewakili sekitar 24,6 persen pangsa ekspor gandum dunia.
Jumlah persentase pasokan gandum itulah yang kira-kira terganggu di seluruh dunia. Di satu sisi, Ukraina tak bisa maksimal mengirim gandum karena adanya blokade. Begitu pun dengan Rusia yang juga dalam posisi membutuhkan gandum untuk ketahanan pangan saat perang.
“Karena banyak produk impor yang selama ini dinikmati oleh masyarakat Rusia kini terputus (karena sanksi akibat invasi). Jadi mereka melakukan proteksi terhadap beberapa pangan yang diproduksi Rusia,” terang ekonom cum Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, kepada kumparan, Sabtu (11/6).
Problem Pengalihan Rute
Kenapa blokade laut begitu signifikan terhadap pasokan gandum dan biji-bijian lain yang diekspor Ukraina ke dunia? Apa tidak ada jalur lain?
Faktanya pemerintah Ukraina tengah mengupayakan solusi membuka koridor pengiriman gandum lewat jalur selain Laut Hitam. Dalam situs resmi pemerintah, Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebut telah memasok gandum ke pasar dunia dengan truk, kereta api, hingga transportasi sungai.
“Kami mengupayakan segala kemungkinan, tetapi masalah ini dapat diselesaikan secara komprehensif hanya dengan membuka blokade pelabuhan Ukraina,” tulis Kemenlu Ukraina, Selasa (7/6).
Pekerja memanen gandum di ladang perusahaan pertanian. Foto: Shamil Zhumatov/REUTERS
Harus diakui bahwa upaya mengirim lewat jalur selain laut bukanlah solusi yang bisa mengakhiri bencana logistik pangan dari Ukraina. Sebab selama ini, menurut laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat di 2020, lebih dari 95 persen ekspor biji-bijian seperti gandum, jagung, dan kedelai melintasi Laut Hitam.
Sebelum invasi, Ukraina bisa mengekspor hingga 10 juta ton biji-bijian termasuk gandum per bulan melalui Laut Hitam. Asosiasi Biji-bijian Ukraina melansir bahwa dengan situasi saat ini, negara itu hanya mampu mengekspor dengan jumlah seperlimanya alias 2 juta ton per bulan.
Dua pintu ekspor utama yang melayani akses pengiriman biji-bijian ke Laut Hitam tersebut di antaranya adalah pelabuhan Odesa dan Mykolaiv. Skemanya, panen petani di wilayah Ukraina Barat, Timur, dan Tengah akan melewati elevator biji-bijian, kemudian dikirim ke pelabuhan tersebut. Pangsa terbesar pengiriman menuju pintu ekspor utama itu diangkut menggunakan kereta api (64 persen), diikuti truk (28 persen), dan tongkang (8 persen).
Dari dua pintu ekspor utama itu, sebagian di antaranya ada yang dikirim menuju Mesir, China, hingga Indonesia. Data pada 2020, pengiriman gandum dari wilayah produksi Ukraina Tengah yang meliputi provinsi Cherkasy, Chernihiv, Kherson, Kirovohrad, Kyiv, Mykolaiv, Odesa, Poltava, dan Sumy, ada yang dikirim menuju ke Pelabuhan di Ciwandan/Cigading di Cilegon, Banten.
Prosesnya dapat kita ambil contoh pada rute pengiriman gandum dari Ukraina Tengah menuju Cigading via Pelabuhan Mykolaiv. Dari Ukraina Tengah, gandum akan dikirim via darat sejauh 240 mil menggunakan truk dan kereta api menuju pelabuhan. Barulah setelah itu, gandum diangkut pakai kapal via Laut Hitam menuju Cigading.
Jika dihitung harga gandum beserta total harga pengirimannya (landed cost) dari Ukraina Tengah menuju Cigading pada 2020 adalah USD 275,1 per metrik ton. Sebanyak USD 47,5 atau 17,4 persen di antaranya merupakan biaya transportasi truk, kereta, dan kapal laut.
Ketiadaan akses menuju Laut Hitam inilah yang membuat proses pengiriman gandum mesti tersendat. Pengamat Bhima Yudhistira menilai bahwa ancaman keamanan akibat perang membuat perusahaan perkapalan tidak mau melayani asuransi kapal yang melewati jalur konflik. Hal ini berdampak kepada tarif pengiriman barang melalui kapal.
“Dampaknya biaya perkapalan jadi lebih mahal kalau terpaksa nekat lewat jalur itu. Jadi asuransi kan enggak ada, akhirnya kapal kalau nekat ke sana, dia akan charge kepada konsumen biaya lebih mahal dua kali lipat sebagai biaya pengganti asuransi,” terang Bhima.
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira. Foto: Ulfa Rahayu/kumparan
Apa yang dikatakan Bhima memang sudah terjadi salah satunya di The Joint War Committee—dewan penasihat asuransi laut yang menilai dan menetapkan wilayah dengan risiko tinggi—untuk Llyod’s Market Association yang berbasis di Inggris. JWC menetapkan bahwa wilayah Laut Hitam di Ukraina dan Rusia merupakan “wilayah yang masuk daftar” mulai Februari 2022.
Artinya, pemilik kapal diharuskan untuk memberi tahu penjamin asuransi jika mereka melintasi wilayah tersebut. Keputusan mengasuransikan perjalanan hingga harga pertanggungan dilakukan dengan pemilik kapal melalui kasus per kasus yang berarti ini akan menambah biaya perjalanan yang terkena dampak perang tersebut.
Pengalihan rute dari Laut Hitam sebagai akses utama pengiriman gandum ke Indonesia juga diakui oleh Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI). Akibatnya terjadi keterlambatan yang biasanya pengiriman hanya butuh waktu sekitar sebulan, kini menjadi dua bulan untuk mendapat kapal pengangkut gandum.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman di Jakarta. Foto: Selfy Momongan/kumparan
“Tidak bisa langsung dari pelabuhan. Ada yang melewati Lebanon, dan sebagainya. Nah ini menyebabkan tahun ini adalah kenaikan harga yang cukup tinggi. Meskipun sebenarnya ketersediaan masih cukup,” ujar Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman, Selasa (14/6).
Adhi mengkhawatirkan jika perang terus berlanjut hingga tahun depan, maka bisa berdampak pada tiadanya petani di Ukraina yang mau menanam gandum. Hal ini dapat menimbulkan permasalahan, bukan hanya di harga yang naik, tapi juga stok ketersediaan gandum global.
Nasib Bergantung pada Gandum
Terancamnya pasokan gandum global akibat perang Rusia dan Ukraina berdampak kuat terutama bagi negara-negara yang masih menggantungkan impor dari kedua negara tersebut.
Berdasarkan penilaian Badan PBB mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), Sebanyak 25 negara-negara di Afrika, termasuk negara terbelakang, mengimpor setidaknya sepertiga gandum dari Rusia dan Ukraina. Adapun 15 negara di antaranya menggantungkan impornya lebih dari 50 persen dari dua negara berkonflik tersebut.
Pada kurun 2018-2020, Afrika mengimpor gandum senilai USD 3,7 miliar dari Rusia dan USD 1,4 miliar dari Ukraina. Jika ditotal, jumlah impor dari Rusia dan Ukraina mewakili 44 persen total impor gandum di wilayah Afrika. Ketergantungan yang tinggi berpotensi membuat harga pangan dengan bahan baku gandum naik di wilayah ini.
“Efek jangka panjang dari kenaikan harga pangan sulit diprediksi, tetapi analisis historis menyoroti tren yang mungkin mengganggu. Secara umum, ketidakstabilan politik dan peningkatan harga komoditas pangan hasil pertanian sangat berkorelasi,” tulis UNCTAD dalam laporan berjudul “The impact on trade and development of the war in Ukraine” Maret 2022 lalu.
Pengamat ekonomi juga mengamini bahwa terganggunya stok gandum di suatu negara, berpotensi membuat kondisi geopolitik berubah. Bhima Yudhistira menyitir satu buku berjudul Ocean of Grain tulisan Scott Reynolds yang membedah kaitan antara gandum dan perubahan sosial.
“Contohnya Arab Spring 2011 itu terjadi karena [harga] gandum naik. Akibatnya rotinya mahal, akhirnya banyak negara Timur Tengah melakukan Arab Spring,” tutur Bhima.
Ilustrasi Roti. Foto: Shutterstock
Sementara menurut data Badan Pangan Dunia (FAO), ada 38 negara di dunia, termasuk wilayah Asia Barat dan Tengah yang menggantungkan impor gandumnya dari Ukraina dan Rusia lebih dari 30 persen.
Menurut FAO, negara-negara yang menggantungkan pasokan pangan itu dari kedua negara mesti menyiapkan rencana darurat untuk sumber impor dari negara lain. Namun, menurut Bhima, soal sumber gandum dari negara lain ini bukan perkara mudah.
“Nanti negara alternatif gandum seperti Australia, Amerika Serikat, itu diburu. Dan ini yang minta banyak karena mungkin sekarang pandemi sudah mulai turun, jadi masyarakat mulai makan lagi di luar rumah, konsumsi gandum per kapita naik. Kalau enggak siap dari sisi pasokan, dampaknya bisa terjadi kelaparan massal,” ujarnya.
Menurut peneliti Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF, Rusli Abdullah, potensi krisis bisa terjadi di sejumlah negara yang makanan pokoknya berbahan baku gandum.
“Memang enggak semua negara. Yang pasti itu Sri Lanka, itu sudah mengalami. Kalau Asia (Tenggara) aman-aman saja sih, karena kan makanan pokoknya beras ya,” ujar Rusli kepada kumparan, Selasa (14/6).
Polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran saat protes menuntut agar Presiden Gotabaya Rajapaksa mundur di tengah krisis ekonomi negara itu, di dekat Rumah Presiden di Kolombo, Sri Lanka, Sabtu (28/5/2022). Foto: Dinuka Liyanawatte/REUTERS
Harga Pangan Diprediksi Melonjak
Perang Rusia-Ukraina juga berdampak terhadap Indonesia lantaran negara ini turut mengimpor gandum dari wilayah perang itu. Menurut data Badan Pusat Statistik yang dipublikasikan International Trade Centre, pada 2021 Indonesia mengimpor 3.074.907 ton gandum dari Ukraina.
Impor gandum dari Ukraina tahun lalu mewakili 26,78 persen dari total impor gandum Indonesia yakni 11.481.352 ton di 2021. Ukraina memang sempat menjadi pemasok nomor satu gandum Indonesia pada 2018-2020. Namun pada 2021, posisi itu digantikan negara tetangga Australia yang memasok 4.692.412 ton atau 40,87 persen dari impor gandum RI.
Rusli menjelaskan gangguan suplai gandum akibat perang bisa berdampak pada sentimen negatif bagi harga gandum dunia, termasuk di Indonesia. Sentimen ini bertambah buruk usai India pada Mei 2022 lalu juga memproteksi gandumnya untuk tidak diekspor ke dunia.
“Ya sudah, sesuai permintaan dan penawaran di ekonomi. Suplainya mungkin ada, tapi enggak gerak ke pasar (karena tertahan akibat blokade perang), itu akan menaikkan harga,” terang Rusli.
Merespons ini, Presiden Jokowi sudah mewanti-wanti masyarakat untuk menyiasati naiknya harga gandum dunia karena perang Rusia dan Ukraina. Ia menyebut harga komoditas tersebut naik 30-40 persen, padahal di Indonesia ada sejumlah makanan yang berkomposisi gandum.
“Di sini ada mi dan roti, semuanya dari gandum,” kata Jokowi saat peringatan 50 Tahun HIPMI di Jakarta, Jumat (10/6).
Ilustrasi pembuatan mie. Foto: Shutterstock
Meski demikian, Rusli melihat dampak gangguan suplai gandum karena perang Rusia vs Ukraina tak akan sampai menyebabkan krisis di Indonesia. Sebab di Indonesia, makanan pokoknya adalah beras yang dalam 3 tahun terakhir justru mengalami surplus.
“Kalau harga naik ya sudah, kita bisa ambil barang lain ada substitusinya. Kenaikan harga ini tidak akan terlalu berpengaruh, artinya tidak seheboh ketika ada (kelangkaan) minyak goreng,” ujar Rusli.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies mengamini bahwa perang Rusia-Ukraina lebih berdampak pada efek psikologis keamanan pangan. Hal inilah yang mendorong kenaikan harga gandum.
Menurut Ratna, pasokan gandum di Indonesia untuk tepung terigu mencukupi lantaran banyak sumber impor dari negara lain seperti Australia, Kanada, hingga Amerika Serikat. Ia menjelaskan, sumber gandum yang berasal dari Ukraina sekitar 3 juta ton lebih digunakan untuk pakan ternak.
Soal gandum untuk pakan ternak inilah yang justru dikhawatirkan Bhima Yudhistira sebagai dampak tidak langsung dari perang Rusia-Ukraina. Sebab, jika gandum dari Ukraina digunakan untuk pakan ternak, maka kenaikan harga merembes ke bahan pokok lain.
“Nah telur sekarang naiknya tinggi, kemudian daging ayam juga mulai ada kenaikan. Itu imbas dampak tidak langsung (perang), jauh lebih bahaya dibanding dampak langsung. Dan sudah diakui juga oleh peternak ayam, kenapa harga telur mahal, karena pakan ternaknya naik,” kata Bhima.
kumparan telah mencoba menghubungi Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo melalui pesan maupun sambungan telepon. Namun, hingga tulisan ini dibuat pihaknya belum merespons. kumparan juga menghubungi Ketua IV GPMT Haris Muhtadi, tapi pihaknya belum memberikan penjelasan mengenai dampak kenaikan harga biji gandum ke industri peternakan.
Perkara Gandum di Antara Perang Rusia Ukraina. Foto: kumparan
Menyiasati gangguan suplai gandum akibat perang, Bhima menyebut dalam jangka pendek pemerintah melalui Kemendag mesti melakukan intelijen pasar untuk mengamankan stok gandum dari negara lain yang masih surplus pasokannya, seperti Australia hingga China.
Sedangkan untuk jangka panjang, menurut Rusli, perlu ada upaya bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor atau konsumsi gandum. Di antaranya dengan melakukan ‘rekayasa kuliner’ dengan cara mengurangi komposisi gandum di dalam makanan.
Baik Rusli maupun Bhima sepakat, perlu adanya substitusi akan gandum. Alternatif tepung gandum bisa diganti di antaranya dengan tepung asli Indonesia seperti tapioka, mokaf, hingga sorgum.
Beras sorgum Foto: Dok. Istimewa
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten