Deretan Persoalan LRT Jabodebek: Biaya Bengkak, Molor, hingga Tabrakan

31 Oktober 2021 5:51 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kereta Light rail transit (LRT) bertabrakan di lajur. Foto: Dasril Roszandi/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Kereta Light rail transit (LRT) bertabrakan di lajur. Foto: Dasril Roszandi/AFP
ADVERTISEMENT
Pengerjaan LRT Jabodebek sejak awal mengalami beragam kendala yang berdampak ke proses pembangunannya. Kendala tersebut mulai dari dana pembangunan membengkak hingga molor dari target.
ADVERTISEMENT
Terbaru, kereta LRT Jabodebek mengalami tabrakan di kawasan Munjul, Jakarta Timur, Senin (25/10). Sampai sejauh ini, penyebab tabrakan LRT tersebut masih diinvestigasi KNKT.
Berikut ini rangkuman selengkapnya mengenai persoalan LRT Jabodebek:

Biaya Bengkak

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan untuk mengerjakan proyek LRT Jabodebek, pemerintah menyebutkan adanya tambahan dana yang diperlukan. Sebelumnya ditaksir mencapai Rp 26,7 triliun. Adapun tambahan dana tersebut mencapai Rp 5 triliun.
"(Total investasi) Rp 31 triliun ya," kata Luhut saat ditemui di Kantor Kementerian Kemaritiman, Kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 20 November 2017 lalu.
Petugas meninjau kondisi LRT Jabodebek yang tabrakan di Munjul, Jakarta Timur (25/10). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Menurut Luhut, penambahan ini disebabkan karena adanya tambahan dalam proses pembangunan. Hal tersebut yang akhirnya membuat target pembiayaan LRT mengalami penambahan biaya.
ADVERTISEMENT
"(tambah) Semua, dan kemudian itu kan ada masalah pembangunan tambah stasiun terus perubahan dari fix block jadi moving block. Tapi kan dengan pertambahan dari fix block ke moving block penumpang jadi tambah dari 260 ribu ke 430 sekian ribu," ujarnya.

Target Molor

Pengerjaan proyek kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) rute Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) dipastikan molor. Salah satu alasannya adalah karena belum bebasnya lahan di Bekasi Timur yang akan dipakai menjadi depo kereta.
Awalnya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menjanjikan proyek ini bisa selesai paling lambat Maret 2020. Namun karena ada masalah terhambatnya pembangunan depo, proyek LRT Jabodebek dijanjikan baru bisa rampung April 2021.
Namun, target tersebut kembali molor. Rencananya, LRT Jabodebek baru dioperasikan pada tahun 2022. Saat ini baru masuk ke tahap uji coba operasional.
ADVERTISEMENT

Tabrakan

Kereta LRT Jabodebek tabrakan di kawasan Munjul, Jakarta Timur, Senin (25/10), yang melibatkan 2 rangkaian kereta di antara petak Stasiun Harjamukti-Stasiun Ciracas jalur LRT Jabodebek. Insiden itu terjadi saat kereta LRT Jabodebek sedang uji coba sarana transportasi.
"Ini merupakan bagian dari uji coba dan di ruas ini belum ada operasional LRT," kata SM PKBL, CSR & Relationship PT INKA, Bambang Ramadhiarto, dalam keterangan tertulisnya.
Tabrakan LRT Cibubur di ruas Munjul Jakarta Timur, Senin, 25/10/2021. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Berdasarkan kronologi kejadian, kata dia, terdapat satu rangkaian kereta menabrak rangkaian yang sedang stabling. Kereta dalam kondisi tidak berpenumpang.
"Dalam peristiwa ini terdapat satu korban luka ringan yaitu masinis PT INKA dan saat ini masih dirawat di RS," katanya. Untuk penyebab kecelakaan masih dilakukan investigasi dari tim PT INKA.
ADVERTISEMENT
Usai adanya tabrakan kereta LRT Jabodebek, Direktur Utama PT INKA (Persero), Budi Noviantoro, menyampaikan permintaan maafnya ke Menteri BUMN Erick Thohir hingga Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.
“Saya atas nama Dirut dan direksi PT INKA memohon maaf pada semua pihak, kepada Pak Menhub, Menteri BUMN, yang terkait juga Menko Marves khususnya yang membantu luar biasa,” kata Budi saat konferensi pers secara virtual, Senin (25/10).
"Dan yang lain-lain yang terkait PT KAI, LRT Jabodebek, dan juga teman-teman yang lain," tambahnya.