Bambang Brodjonegoro: Jika Tak Kesampaian di 2045, RI Gagal Jadi Negara Maju

4 Agustus 2021 13:24 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro.
 Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro
zoom-in-whitePerbesar
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro
ADVERTISEMENT
Mimpi Indonesia naik kelas jadi negara maju di 2045 kian menemukan jalan terjal. Merebaknya pandemi COVID-19 jadi salah satu batu rintangan yang membuat visi tersebut kian berat.
ADVERTISEMENT
Alih-alih melangkah mendekati status negara berpendapatan tinggi atau High Income Country, Indonesia justru kehilangan gelar Upper Middle Income Country alias negara berpenghasilan menengah atas di tahun 2020.
Terkontraksinya pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun imbas pandemi, jadi sebab status yang baru setahun disandang tersebut terpaksa ditanggalkan. Indonesia kembali menjadi negara dengan status Lower Middle Income Country alias negara berpendapatan menengah bawah.
Mantan Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro, menilai visi tersebut memang harus sudah diraih Indonesia sebelum tahun 2045. Ini baginya bukan semata karena bertepatan dengan seremonial 100 tahun kemerdekaan, melainkan juga sebagai sebuah tenggat waktu yang sulit buat dikompromikan.
Potret kemiskinan di Indonesia. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Komisaris Utama Telkom itu bahkan menyebut Indonesia harus melupakan mimpi tersebut, apabila gagal mewujudkannya sebelum 2045.
ADVERTISEMENT
"Saya menegaskan 2045 penting bukan hanya merayakan 100 tahun kemerdekaan. Kalau deadline 2045 tidak bisa kita penuhi susah atau belum berhasil keluar dari Middle Income Trap 2045, akhirnya kita harus melupakan mimpi itu," pungkas Bambang dalam acara peringatan 50 tahun CSIS yang digelar secara daring, Rabu (4/8).
Dia berargumen, tahun-tahun sebelum 2045 menjadi momentum yang sangat pas bagi Indonesia lantaran melimpahnya bonus demografi. Mayoritas masyarakat berada dalam usia produktif.
Bonus demografi ini, menurut dia, menjadi faktor utama banyak negara berhasil keluar dari jebakan kelas menengah dan naik menjadi negara high income.
Lebih lanjut, dia menilai mayoritas penduduk Indonesia bakal berada di usia pensiun setelah 2045, sehingga sumber daya manusia buat menggenjot perekonomian juga semakin berkurang.
ADVERTISEMENT
"Saat ini paling tepat karena menjelang 2045 Indonesia berubah menjadi aging society. Sekarang ini usia produktifnya sebagai bangsa, kalau sudah pensiun kesehatan tidak seprima dulu agak susah jadi orang kaya tadi," paparnya.
"Jadi kita harus jadikan 2045 itu tidak hanya simbol 100 tahun, tapi semacam deadline yang tak boleh dilewat," sambung mantan Kepala Bappenas yang dulunya turut terlibat merancang visi Indonesia 2045 tersebut.