Bak Cerita Film, Drama Pelarian Eks Bos Nissan Kecoh Aparat Jepang

8 Januari 2020 18:47 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Eks-bos Nissan, Carlos Ghosn, kembali bebas dari tahanan aparat Jepang. Foto: Reuters/Issei Kato
zoom-in-whitePerbesar
Eks-bos Nissan, Carlos Ghosn, kembali bebas dari tahanan aparat Jepang. Foto: Reuters/Issei Kato
ADVERTISEMENT
Media internasional mendadak dibikin kaget dengan keberadaan Carlos Ghosn, eks CEO Nissan dan Renault yang merayakan malam tahun baru di Lebanon bersama sang istri.
ADVERTISEMENT
Pada saat kemunculan tersebut, Ghosn berstatus bebas bersyarat dan dilarang meninggalkan Jepang. Bahkan ia harus menghadapi persidangan. Ia sempat ditahan otoritas Jepang, kemudian dibebaskan dan ditahan kembali. Akhirnya dibebaskan lagi pada Maret 2019.
Namun yang terakhir, ia harus bebas dengan jaminan 1 miliar yen atau setara Rp 124 miliar. Ia tak bisa meninggalkan Jepang dan akses komunikasinya dibatasi karena harus menghadapi sidang kembali. Ghosn menghadapi tudingan memperkaya diri sendiri selama menjadi CEO Nissan. Menurut The Economist, Ghosn dan orang dekatnya diduga memperkaya diri hingga USD 140 juta.
Saat akan menghadapi persidangan di tahun 2020 ini, ia memutuskan kabur dari Jepang. Mengutip The Wall Street Journal (WSJ), ia tak percaya dengan pengadilan Negeri Sakura.
ADVERTISEMENT
Uniknya, saat pelarian. Ia tak terdeteksi sama sekali oleh otoritas keamanan dan imigrasi Jepang. Bahkan paspor Prancis, Brasil, dan Lebanon masih dipegang oleh pengacara. Namun, ia memiliki celah dan mengajukan banding. Warga negara asing harus memegang paspor saat berada di dalam Jepang.

Pelarian Dibantu Spesialis Pembebasan Sandera

Pelarian Ghosn dari Jepang, dibantu oleh Michael Taylor dan George-Antoine Zayek. Taylor merupakan mantan pasukan khusus Amerika Serikat. Ia pernah disewa oleh New York Times untuk mengeluarkan jurnalis mereka yang ditahan Taliban di Afghanistan tahun 2009, sedangkan Zayek merupakan warga AS keturunan Lebanon. Ia rekan Taylor dan bekerja sebagai kontraktor keamanan AS di Afghanistan dan Irak. Kemudian keduanya mengajak belasan orang dalam tim untuk mengatur pelarian atau escape plan.
Ilustrasi jet pribadi Foto: Jay jay V/Pixabay
Tim ini sudah 20 kali ke Jepang. Mereka setidaknya menganalisa hingga 10 bandara di Jepang yang memiliki peluang terbesar untuk mengeluarkan Ghosn dari negara tersebut tanpa ketahuan pihak keamanan.
ADVERTISEMENT
Kemudian dipilihlah Terminal Private Jet di Kompleks Bandara Kansai, Osaka. Di sana pemeriksaan barang relatif longgar. Tim pun berpikir untuk membawa kotak yang susah dilakukan pemeriksaan bila melalui mesin x-ray. Kotak inilah yang dipakai Ghosn untuk bersembunyi dan masuk ke dalam pesawat.
Tepatnya 28 Desember 2019, Ghosn meninggalkan rumahnya di Tokyo menggunakan masker pada 14.30 waktu setempat. Meski masih akan menghadapi persidangan, pengawasan pihak keamanan terhadap dirinya relatif longgar. Ia menggunakan taksi, menuju Hotel Hyatt dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju stasiun kereta cepat di Tokyo untuk menuju ke Osaka.
Tiba malam hari, ia langsung menuju sebuah hotel di Osaka. Di sini ia masih terpantau kamera CCTV. Namun setelah itu, ia menghilang. Ia ternyata dibawa keluar dengan mobil dan bersembunyi di dalam kotak menuju Terminal Private Jet di Kansai Airport.
ADVERTISEMENT
Di sana telah menunggu sang kontraktor, Taylor dan Zayek. Kemudian kotak dimasukkan ke dalam pesawat sewaan Bombardier. Pesawat tersebut disewa seharga USD 350.000 untuk rute Osaka ke Istanbul Turki. Di dalam manifest, hanya ada nama Taylor dan Zayek, tak ada Ghosn. Awak kabin pun tak tahu bila ada Ghosn bersembunyi di dalam kotak yang menyerupai tempat penyimpanan peralatan musik tersebut. Ia sempat keluar kotak dan duduk di kursi, tanpa ketahuan awak kabin.
Keesokan harinya, pesawat tiba di Ataturk Airport, Istanbul, pukul 05.12 pagi. Dari pesawat, ia keluar dan kemudian naik kendaran untuk melanjutkan bandara di Istanbul. Pada pelarian dari Turki ke Lebanon, ia tak didampingi Taylor dan Zayek. Ia pun menggunakan paspor Prancis dan kartu identitas Lebanon untuk keluar Turki dan memasuki Lebanon.
ADVERTISEMENT
"Biaya untuk mengeluarkan Ghosn seperti itu bisa mencapai jutaan dolar," ungkap sumber WSJ.
Jepang pun tak bisa berbuat banyak ketika Ghosn telah berada di Lebanon. Tak ada perjanjian ekstradisi antara Jepang dan Lebanon. Selama di Lebanon, ia tinggal bersama sang istri Carole di sebuah hunian mewah yang dulunya dibelikan oleh Nissan.
Dalam keterangan tim PR-nya, Ghosn mengaku tidak menghindar dari kasus hukum di Jepang.
"Saya kabur dari ketidakadilan dan persekusi politik," tulis pernyataan Ghosn melalui tim PR-nya.