AIIB: Pemerintah RI Harus Cermat Prioritaskan Proyek Infrastruktur saat Pandemi

28 Juli 2020 22:56 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Vice President and Chief Administration Officer AIIB, Luky Eko Wuryanto. Foto: Dok. AIIB
zoom-in-whitePerbesar
Vice President and Chief Administration Officer AIIB, Luky Eko Wuryanto. Foto: Dok. AIIB
ADVERTISEMENT
Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) menilai Indonesia memiliki banyak potensi dan peluang untuk pulih dari dampak pandemi COVID-19 yang mengguncang perekonomian. Meski demikian, AIIB mengatakan ada beberapa hal yang harus dicermati oleh pemerintah Indonesia. Salah satunya yaitu menentukan skala prioritas.
ADVERTISEMENT
Vice President Chief Administration Officer AIIB Indonesia Luky Eko Wuryanto mencontohkan misalnya dalam masa pandemi ini, ada banyak proyek infrastruktur yang tersendat. Akibatnya hal ini juga akan menekan perekonomian negara. Namun menurut Luky, pemerintah bisa mengambil skala prioritas untuk menentukan proyek mana yang masih bisa berlanjut dan memberikan dampak positif meski dalam situasi tertekan.
“Pembangunan infrastruktur juga tiba-tiba menghadapi situasi di mana keterbatasan anggaran jadi sebuah persoalan besar. Ini harus direprioritisasi. Mungkin tidak bisa seperti kondisi normal, tapi kita harus pilih cermat mana-mana yang kalau kita lakukan dengan biaya tidak terlalu banyak itu justru dampaknya lebih besar atau sama besarnya,” ungkap Luky dalam konferensi pers virtual, Selasa (28/7).
Pemandangan proyek pembangunan infrastruktur jalur LRT dan gedung bertingkat di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Luky menyadari bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Apalagi saat ini permintaan mulai turun, kapasitas produksi pun juga tidak bisa lagi meningkat karena kebutuhan barang baku yang belum tentu bisa disediakan.
ADVERTISEMENT
Meski demikian Luky cukup optimistis bahwa Indonesia memiliki ruang untuk recovery. “Semua berpulang ke pemerintah bagaimana mereka manage baik krisis kesehatan ditambah dengan krisis ekonomi yang sekaligus menimpa. Secara potensi, Indonesia punya banyak yang bisa dikembangkan. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah memilih secara cermat prioritasnya,” ujarnya.
Seperti diketahui, AIIB akan menggelontorkan pinjaman senilai USD 1 miliar atau sekitar Rp 14,15 triliun untuk dua proyek di Indonesia. Hal ini sebagai bagian dari upaya mendukung rencana pemerintah Indonesia untuk memperkuat jaring pengaman sosial negara, meningkatkan respons kesehatan, dan membendung penurunan ekonomi dari krisis kesehatan virus corona.
Adapun pinjaman itu diberikan dalam dua program. Pertama, USD 750 juta akan digunakan untuk memperkuat bantuan ekonomi untuk bisnis, termasuk usaha kecil dan menengah, rumah tangga miskin dan rentan, serta memperkuat sistem kesehatan negara.
ADVERTISEMENT
Kedua, pinjaman USD 250 juta akan digunakan untuk memperkuat respons kesehatan langsung pemerintah yang mencakup kesiapan untuk pengujian, pengawasan, pencegahan, dan pengobatan COVID-19, serta kesiapan rumah sakit.