Riset: 7 dari 10 Siswa Alami Demotivasi Belajar Selama Pandemi COVID-19

15 September 2021 13:37 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
com-Ilustrasi Belajar Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi Belajar Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Menurut riset dari studi global Save the Children pada Juli 2020 yang dilakukan di 46 negara termasuk Indonesia, tujuh dari 10 siswa mengalami demotivasi atau penurunan motivasi belajar selama pandemi COVID-19.
ADVERTISEMENT
Mereka juga kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).
CEO Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung menyebut, lebih dari 60 juta anak di Indonesia melakukan PJJ sejak Maret 2020 lalu.
"Studi kami sangat jelas menggambarkan bahwa banyak anak di Indonesia menghadapi kesulitan dalam belajar daring, motivasi belajar menurun, dan ini bisa berpengaruh pada kemampuan literasi dan numerasi anak," katanya, dikutip dari Antara.
Selina menambahkan, di beberapa wilayah anak-anak terancam putus sekolah karena harus bekerja dan atau menikah dini.
Maka itu menurut dia, seluruh pihak perlu bersama-sama mengantisipasi kesulitan belajar yang bisa menyebabkan kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar (learning loss) pada siswa, dan dikhawatirkan akan berdampak pada kurangnya keahlian mereka saat dewasa (less-skilled workers).
ADVERTISEMENT
"Tindakan yang sistematis, aman, dan inklusif harus segera dilakukan dan menjadi prioritas untuk mendukung pemberian akses pembelajaran, sebagai bagian dari pemulihan yang berkelanjutan," pungkas Selina.

Siswa Sulit PJJ karena Tidak Dapat Kuota Gratis

Fakta kesulitan mengikuti PJJ juga dialami oleh anak–anak di D.I. Yogyakarta. Sebanyak 44 dari 105 responden atau 42 persennya mengaku tidak mendapatkan kuota gratis, baik dari pemerintah maupun sekolah.
Laporan ini merupakan hasil survei tentang pemerataan paket internet bagi siswa dari Child Campaigner dalam gerakan Save Our Education dan bagian dari Child and Youth Advocacy Network (CYAN).
"Hasil survei kami menemukan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan kuota gratis ini salah satu alasannya karena tidak terdata. Padahal secara faktor ekonomi mereka sangat membutuhkan. Jadinya banyak anak yang merasa sedih, kecewa, bahkan merasa ini tidak adil," kata Koordinator Child Campaigner Save the Children di Yogyakarta, Gya.
ADVERTISEMENT
Cewek 17 tahun itu berharap pemerintah dapat membagikan kuota gratis untuk belajar dengan lebih merata kepada semua siswa.
"Setiap anak pasti berharap mendapat pendidikan yang berkualitas, mulai dari mutu pembelajaran yang lebih baik, mudah dipahami, dan tentunya kuota internet yang cukup untuk belajar," lanjut Gya.