fantasy-2847724_1920.jpg

Kualat Gunung Pulosari 2: Kematian Para Pendaki (Part 4)

23 September 2020 16:28 WIB
comment
11
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Kualat Gunung Pulosari 2 bagian 4, Kematian Para PendakiFoto : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kualat Gunung Pulosari 2 bagian 4, Kematian Para PendakiFoto : Pixabay
ADVERTISEMENT
Tanpa pikir panjang lagi, Bobi lari menghampiri Mira. Namun, saat ia akan menyentuh lengan Mira, tiba-tiba saja Mira dan sosok wanita berpakaian kerajaan itu hilang entah ke mana. Keramaian pasar juga lenyap begitu saja.
ADVERTISEMENT
Pasar itu berubah menjadi lahan kosong yang berbatu. Sedangkan Ajeng masih berdiri di kejauhan sambil terheran-heran dengan apa yang dilihatnya.
“Mira! Mira!” Bobi berteriak ke segala arah mencari Mira. Tapi Mira tak menampakkan wujud lagi.
“Mas! Kita dipermainkan setan. Ayo pergi dari sini!” teriak Ajeng dari kejauhan.
Bobi pun menyerah. Ia merasa mungkin Ajeng benar kalau yang dilihatnya tadi hanya jelmaan Mira. Ia meraih kembali senapannya yang tergeletak di tanah, lalu berjalan menghampiri Ajeng. Tanpa berkata apa pun Bobi melanjutkan perjalanan.
“Kita mau ke mana lagi?” Ajeng mempercepat langkahnya, mengejar Bobi.
“Sudah kubilang aku mau cari Mira,” kini Bobi jengkel sama Ajeng yang banyak tanya.
ADVERTISEMENT
“Iya, tapi ke mana?” tanya Ajeng lagi.
“Aku tidak tahu.”
Bobi berhenti. Dia membalikkan badan dan menatap Ajeng dengan tatapan marah.
“Sudah kubilang, jangan ikuti aku! Aku nggak mau ada beban!” bentak Bobi.
Setelah dibentak seperti itu, Ajeng langsung diam dan tertunduk. Bobi melangkah kembali. Kali ini ia mempercepat langkahnya. Ajeng tergopoh-gopoh mengejarnya dari belakang.
Sampai sore, mereka malah semakin tersesat di tengah hutan. Bobi kelelahan. Persediaan makanannya sudah habis. Ia duduk di bawah pohon sambil memeriksa ranselnya, mencari-cari sisa makanan.
“Aku udah kehabisan makanan. Air juga habis,” kata Bobi sambil melirik Ajeng.
“Aku ada air minum nih,” Ajeng merogoh sebotol air minum dari dalam tasnya. Ia kemudian menyerahkan botol itu pada Bobi.
ADVERTISEMENT
“Dari mana kamu dapat air ini?” tanya Bobi.
“Itu air hujan, Mas. Nama kamu siapa sih, Mas?” Ajeng malah balik tanya.
“Bobi.”
Ajeng mengangguk-angguk. Tak lama kemudian terdengar suara petir dari kejauhan. Awan hitam pun perlahan mendekat membuat suasana menjadi mendung.
“Sepertinya akan hujan. Kita bikin tenda di sini saja,” Bobi bangkit lalu mengeluarkan tenda dome miliknya.
Tak sengaja Ajeng melihat seekor ular sanca yang melintas dari balik semak-semak. Wanita itu pun dengan sigap mengeluarkan pisau dari dalam tasnya. Ia mendekati ular itu pelan-pelan.
“Kamu mau apa?” Bobi yang sedang sibuk mendirikan tenda, tiba-tiba perhantiannya tertuju pada Ajeng.
“Ada makanan, Mas.”
Tanpa ancang-ancang lagi, Ajeng memegang kepala ular sanca itu lalu memotongnya. Tubuhnya sempat dililit, tapi Ajeng berhasil melepaskan diri.
ADVERTISEMENT
***
Malam itu ternyata hujan tak kunjung turun. Ajeng membakar potongan ular sanca hasil buruannya tadi sore, sementara Bobi tidak sanggup makan ular itu. Ia lebih baik menahan lapar daripada harus makan ular.
“Enak, Mas. Cobain deh,” Ajeng menyodorkan sepotong daging ular pada Bobi.
“Kamu saja. Aku tidak biasa makan ular,” jawab Bobi. Ia melamun, tatap matanya kosong memandangi api unggun. Ia masih memikirkan nasib istrinya di rumah.
“Ya sudah kalau nggak mau,” Ajeng pun memakan potongan daging ular itu.
Malam semakin larut. Api unggun dibiarkan menyala. Bobi dan Ajeng masuk ke dalam tenda, mereka tidur dengan posisi saling membelakangi satu sama lain.
Namun, tengah malam entah jam berapa, ada bayangan seorang lelaki yang melintasi tenda mereka. Lelaki itu berlalu-lalang, membuat suara berisik di semak-semak.
ADVERTISEMENT
Bobi pun bangun. Ia seketika menyadari kalau ada seseorang di luar tenda. Buru-buru ia meraih senapannya. Dengan hati-hati dia mengintip dari celah pintu tenda. Di luar, Bobi melihat ada lelaki yang sangat ia kenal. Itu adalah Eldi. Dia berdiri tepat di depan tenda.
Eldi?” tanya Bobi.
“Om, tolongin Mira, Om!” kata Eldi, raut wajahnya tampak panik.
Segera Bobi keluar dari dalam tenda.
“Mira?! Di mana dia?”
“Di sana, Om!” Eldi menunjuk ke Barat.
“Ayo antar aku,” pinta Bobi sambil merogoh senter dari dalam kantong celananya. Ia tidak curiga sedikit pun pada Eldi. Bobi kira Eldi memang masih hidup. Padahal si Eldi ini udah meninggal.
ADVERTISEMENT
Bobi mengikuti Eldi dari belakang. Mereka berdua pun tiba di sebuah tempat yang asing bagi Bobi. Ini masih di tengah hutan, banyak pohon-pohon besar di sekeliling Bobi.
“Di sana, Om,” tunjuk Eldi ke atas pohon.
Bobi mengarahkan cahaya senternya ke atas. Di sana ia melihat ada puluhan orang yang lehernya digantung. Mereka semua mati mengenaskan, matanya melotot dan lidahnya terjulur.
“Mereka siapa? Siapa yang melakukan ini? Dan, di mana Mira?” dengan ekspresi wajah terkejut Bobi menoleh kepada Eldi.
Tampak wujud Eldi yang sangat menyeramkan. Kepalanya hanya sisa sepotong. Lidahnya menjulur keluar, darahnya juga tercecer ka tubuhnya. Bobi terkejut dan langsung lari tunggang-langgang tanpa arah.
***
ADVERTISEMENT
Sementara itu, di dalam tenda, ada yang memeluk tubuh Ajeng. Wanita itu pun bangun. Dia membalikkan badan. Dengan mata terpicing, ia melihat Bobi sedang memeluknya.
“Kamu bangun,” kata Bobi sambil menatap Mira dalam-dalam.
Ajeng benar-benar gugup. Bobi semakin meringsut mendekatinya.
“Jangan, Mas…,” kata Ajeng pelan.
“Kamu kedinginan kan?” tanya Bobi sambil tersenyum.
Ajeng berusaha melepas pelukan lelaki itu. Namun, keadaan semakin tak terkendali. Ajeng kesulitan melepas pelukan lelaki yang menyerupai Bobi. Ajeng pun pasrah begitu saja. Demit itu meniduri Ajeng.
=====
Nantikan cerita horor Kualat Gunung Pulosari 2 selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini:
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten