Mengenal Wakakusa Yamayaki, Tradisi Bakar Gunung di Jepang

8 September 2020 7:01 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Wakakusa Yamayaki, tradisi bakar gunung di Jepang Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Wakakusa Yamayaki, tradisi bakar gunung di Jepang Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Jepang seakan tak pernah habis memukau wisatawan lewat beragam tradisi yang dimilikinya. Seperti yang dilakukan masyarakat Kota Nara, Jepang, yang mempunyai tradisi unik merayakan festival kembang api di atas sebuah gunung.
ADVERTISEMENT
Setiap bulan Januari, masyarakat Jepang akan melakukan tradisi bakar gunung yang dilakukan di Gunung Wakakusayama. Dilansir Japan Guide, tradisi unik tersebut bernama Wakakusa Yamayaki.
Tradisi yang dilakukan sebagai bagian dari festival Wakakusa Yamayaki ini dilakukan setiap Sabtu keempat di bulan Januari.
Wakakusa Yamayaki, tradisi bakar gunung di Jepang Foto: Shutter Stock
Bukan sembarangan gunung, masyarakat Jepang membakar rumput mati yang ada di Gunung Wakakusa.
Aksi pembakaran itu dilakukan di area perbukitan Gunung Wakakusa, Prefektur Nara, Jepang yang tingginya mencapai 342 meter.

Asal-usul Tradisi Membakar Gunung di Jepang

Peristiwa ini dikenal sebagai Yamayaki yang secara harfiah berarti 'gunung panggang'.
Sebenarnya tak ada yang tahu kapan persisnya pembakaran gunung itu mulai dirayakan sebagai festival. Namun orang-orang meyakini festival itu sudah dilakukan ratusan tahun yang lalu.
ADVERTISEMENT
Konon, pembakaran bukit itu dulunya dilakukan karena ada perselisihan batas wilayah antara dua kuil terbesar di Nara, yaitu Todai-ji dan Kofuku-ji, sekitar abad ke-18.
Pada saat mediasi keduanya gagal, maka dikeluarkan keputusan bahwa semua gunung harus dibakar.
Sedangkan ada versi lain tentang festival tersebut. Kabarnya, aksi membakar gunung itu merupakan cara untuk membasmi hama dan mengusir babi hutan.
Saat ini, tradisi ini dirayakan oleh Candi Todaiji, Candi Kofukuji, dan Kuil Kasuga. Perayaan dimulai dengan upacara penyalaan obor di Kuil Kasuga Taisha. Lalu, api dibawa dalam parade menuju kaki gunung, di tempat api unggun besar itu menyala. Di atas gunung telah diletakkan enam kembang api paling spektakuler.
Setelah kembang api lengkap, rerumputan di gunung mulai dibakar. Pembakaran dapat dilakukan beberapa lama mulai dari 30 menit hingga satu jam. Tergantung seberapa kering rumput-rumput di sana, dan percikan api dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat di Kota Nara.
ADVERTISEMENT
Jika rumput dalam kondisi masih basah, api akan sangat lambat membakar rumput. Sedangkan jika kondisi rumput sangat kering, api akan menjalar dengan sangat cepat.
Tak heran jika, tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Apalagi, festival Wakakusa Yamayaki biasanya dilakukan di malam hari.
Biasanya, ratusan orang akan berkumpul di kaki Gunung Wakakusa untuk menyaksikan perayaan itu. Selain itu, ada ribuan orang lainnya yang juga menyaksikan kobaran api dari Kota Nara dan titik pandang lain di sekitar Gunung Wakakusa.
Meskipun festival ini dianggap tak ramah lingkungan, masyarakat Nara, Jepang tetap melakukan tradisi yang telah dilakukan berabad-abad ini. Apalagi tradisi ini yang sudah ada sejak lama sehingga sulit untuk ditinggalkan.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, pada perayaan tersebut, hadir pula pemadam kebakaran yang berjaga-jaga memadamkan api bila kondisinya membahayakan.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)