Waspada Bahaya Sianida: Mirna, Sate Bantul hingga Kopda Muslimin

2 September 2022 13:36 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi zat kimia sianida. Foto: RHJPhtotoandilustration/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi zat kimia sianida. Foto: RHJPhtotoandilustration/shutterstock
ADVERTISEMENT
Sejumlah kasus kematian akibat sianida menggemparkan publik belakangan ini. Bahkan peristiwa bunuh diri Kopda Muslimin terkuak melalui hasil visum yang diduga bunuh diri dengan menenggak sianida. Hal itu diungkapkan Kapendam IV/Diponegoro Letkol Inf Bambang Hermanto.
ADVERTISEMENT
Jika melakukan kilas balik, kasus pembunuhan mau pun bunuh diri menggunakan sianida sudah terjadi berulang kali di Indonesia.
Kasus yang cukup menggemparkan publik terjadi pada tahun 2016. Sianida terbukti menjadi penyebab tewasnya perempuan bernama Wayan Mirna Salihin.
Lambung Mirna mengalami pendarahan setelah meminum kopi yang dipesankan Jessica Kumala Wongso. Pendarahan tersebut berasal dari zat korosif asam sianida.
Jessica Kumala Wongso. Foto: Reuters/Beawiharta
Setelah Mirna, kasus kematian yang disebabkan oleh sianida dialami oleh seorang bocah di Bantul, Yogyakarta. NF berusia 8 tahun meregang nyawa setelah keracunan sianida yang terdapat di sate yang ia makan pada 25 April 2021 lalu.
Lantas, bagaimana sianida bisa sangat mematikan?

Tentang Sianida

Sianida biasanya digunakan di sejumlah industri, seperti elektroplating, pemurnian logam, sintesis organik dan berbagai proses kimia. Tetapi senyawa ini memang terbukti sangat beracun bagi manusia. Setidaknya, dibutuhkan dosis 0,05 g/orang hidrogen sianida atau 0,15-0,3 g/orang kalium sianida hanya untuk mematikan nyawa seorang manusia.
Ilustrasi zat kimia sianida. Foto: 4.murat/shutterstock
Di Korea, sianida merupakan salah satu bahan terpenting dalam studi toksikologi forensik karena senyawa tersebut telah digunakan untuk tujuan bunuh diri atau pembunuhan.
ADVERTISEMENT
Sianida memberikan efek toksiknya bereaksi dengan besi trivalen dari sitokrom oksidase, sehingga menghambat transpor elektron dan mencegah sel menggunakan oksigen (hipoksia), yang mengakibatkan kerusakan fungsi vital yang sangat cepat.

Data Kematian Akibat Sianida

Di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, kasus keracunan oleh bahan kimia beracun kerap kali terjadi, salah satunya disebabkan oleh sianida. Menurut Data Direktori Putusan Mahkamah Agung (MA), sianida menjadi jenis racun terbanyak yang digunakan di Indonesia dalam kasus pembunuhan.
Setidaknya, terdapat 13 kasus dalam kurun waktu tahun 2010 hingga 2021 yang menggunakan racun sianida sebagai senjata pembunuh. Di posisi kedua, terdapat kasus pembunuhan dengan racun tikus sebanyak 12 dan racun pestisida menempati urutan ke-3 sebagai jenis racun yang banyak digunakan dalam pembunuhan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, berdasarkan data yang dilakukan oleh National Forensic Service di Busan, Korea tentang jumlah total kasus autopsi terkait keracunan sianida selama 2005 hingga 2010, tercatat ada 2.080 dan 2.851 kasus setiap tahunnya.
Dari kasus itu, 14 hingga 36 kasus setiap tahun selalu berkaitan dengan keracunan sianida dan totalnya sebanyak 160 kasus, atau 1,09 persen dari total kasus otopsi selama enam tahun. Kasus kematian akibat keracunan sianida tertinggi terjadi pada tahun 2005, yakni sebanyak 62 kasus.
Di Korea Selatan, kematian akibat insektisida dan herbisida mayoritas memang berasal dari kasus keracunan. Sementara, kematian akibat sianida sendiri menempati 0,51 persen dari semua kasus keracunan tersebut.
Selain itu, penelitian yang sama juga mencatat usia rata-rata korban akibat sianida berada di rentang usia 10 hingga 80 tahun. Frekuensi kejadian kasus terbanyak terjadi pada mereka yang berumur 40 tahun dengan 81 kasus. Kemudia, usia 30 tahun menempati posisi ke-2 terbanyak yang tewas akibat sianida.
ADVERTISEMENT
Sementara usia 50 ke atas terdapat 44 kasus, atau 17,2 persen. Pada usia 60 ke atas, mereka mencatat 17 kasus, atau setara 6,7 persen, dan usia 70 dengan jumlah kasus 3 atau 1,2 persen, sedangkan usia 80 ke atas hanya ada 1 kasus atau 0,4 persen.
Dari kasus kematian tersebut, tercatat 97,3 persen penyebab kematian berasal dari kasus bunuh diri menggunakan sianida, sementara empat orang menelan sianida karena kesalahan, dan dua kasus pembunuhan. Mereka yang menelan sianida, 37 orang di antaranya meninggal saat menerima perawatan medis, dan tiga orang lain meninggal karena menghirupnya.
Ilustrasi perempuan merokok Foto: Doucefleur/Shutterstock
Ada beberapa benda di sekitar manusia yang dapat menjadi penyebab terpaparnya racun pada senyawa sianida. Beberapa di antaranya, seperti asap yang berasal dari kebakaran atau terbakarnya alat-alat seperti karet, plastik, dan sutera.
ADVERTISEMENT
Selain itu, asap rokok juga terbukti menjadi sumber sianida paling umum. Sianida secara natural terdapat pada tembakau. Darah para perokok bisa jadi mengandung sianida 2.5 kali lebih banyak daripada orang yang tidak merokok.
Reporter: Cut Salma