Vaksin Merah Putih Eijkman Molor Setahun, Amin Soebandrio Ungkap Penyebabnya

17 Januari 2022 21:29 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Mantan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof. Amin Soebandrio. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof. Amin Soebandrio. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
Eks Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio, menghadiri rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI, Senin (17/1). Dalam rapat tersebut ia sempat ditanya soal Vaksin Merah Putih.
ADVERTISEMENT
Vaksin Merah Putih dikembangkan oleh 6 lembaga/institusi. Salah satunya Eijkman. Namun pengerjaan vaksin yang dikembangkan oleh Eijkman sejak 2020 molor jauh dari timeline.
Amin mengatakan salah satu hambatan pengembangan Vaksin Merah Putih di lembaganya dulu ialah keterbatasan fasilitas.
"Kalau Eijkman diberi kesempatan, fasilitas, dan anggaran seperti waktu kami ditugaskan tahun 2020 maka vaksin harusnya bisa lebih cepat," kata Amin.
Pada Desember 2021, bibit vaksin mereka sudah 90 persen selesai. Namun ada suatu kendala yang harus disempurnakan.
Menurutnya pada awal Januari 2021, Eijkman telah melaporkan ke Kemenristek/BRIN membutuhkan alat untuk melakukan pengembangan. Namun hal itu tidak juga terealisasi.
"Dari Kemenristek ini sudah disetujui dan sedang diproses tapi ya diproses terus sampai akhir tahun 2021. Jadi untuk mengadakan salah satunya namanya bio rector untuk memperbanyak vaksin," kata Amin.
ADVERTISEMENT
Menurut Amin, Bio Farma memiliki alat tersebut. Tapi penggunaannya tidak bisa eksklusif untuk Eijkman.
"Di Bio Farma ada alatnya tapi kita harus giliran, harus share dengan Unpad segala macam karena Bio Farma harus melayani lembaga lain. Jadi periode 1 tahun kami bisa menggunakan alat di Bio Farma sekitar 4 kali, gak sampai 5 kali," kata Amin.