Prof Wiku: Perlu Waspada Mobilitas Kini Lebih Tinggi, Tertinggi Sejak Pandemi

15 Februari 2022 21:35 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Prof Wiku Adisasmito. Foto: BNPB
zoom-in-whitePerbesar
Prof Wiku Adisasmito. Foto: BNPB
ADVERTISEMENT
Juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan mobilitas masyarakat pada gelombang Omicron sangat tinggi bahkan paling tinggi sejak awal pandemi COVID-19. Hal ini yang menjadi penyebab angka penularan naik secara drastis.
ADVERTISEMENT
"Kita perlu waspada di tengah kondisi yang demikian, mobilitas masih sangat tinggi bahkan tertinggi sejak awal pandemi," ujar Prof Wiku dalam keterangannya saat konferensi pers melalui Youtube Sekretariat Presiden RI pada Selasa (15/2).
Kenaikan kasus positif COVID-19 pada gelombang Omicron juga perlu tetap diwaspadai, sebab telah mencapai rekornya dibandingkan saat puncak gelombang varian Delta pada pertengahan 2021 lalu.
Sejumlah pengguna angkutan kereta rel listrik (KRL) mengenakan masker di dalam gerbong KRL di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Lonjakan kasus konfirmasi positif COVID-19 nasional pada dua minggu ini naik secara tajam. Wiku mengatakan, jumlah kenaikan pada minggu lalu hampir mencapai jumlah kasus puncak gelombang Delta.
"Minggu lalu penambahan kasus positif sebesar 291 ribu sementara penambahan kasus postif di puncak (gelombang) kedua (Delta) adalah 350 ribu," ucapnya.
Sejumlah penumpang pesawat berjalan setibanya di Terminal 2 Kedatangan Domestik Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (2/1/2022). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO
Peningkatan kasus penularan ini, kata dia, juga diiringi dengan penambahan kasus kematian pada minggu ini. Namun, menurutnya kasus kematian ini masih rendah bila dibandingkan dengan kasus kematian akibat varian Delta.
ADVERTISEMENT
"peningkatan di masa lonjakan ketiga (Omicron) ini jauh lebih rendah dibanding masa lonjakan kedua. Minggu lalu, terdapat 505 orang meninggal sementara di masa lonjakan Delta ada lebih dari 12 ribu orang meninggal," rincinya.
Meski demikian, Wiku menegaskan kenaikan kasus kematian yang tak terlalu banyak ini tidak dapat disepelekan, sebab itu adalah nyawa yang tidak dapat diganti.
"Walau demikian nyawa tetaplah nyawa yang tidak tergantikan," ungkapnya.