Peringati Revolusi 6 April, Warga Sudan Gelar Demonstrasi Anti-kudeta

6 April 2022 17:08 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Warga Sudan menggelar demonstrasi untuk menentang kudeta militer yang terjadi hampir tiga bulan lalu, di selatan ibu kota Khartou, Sudan. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Warga Sudan menggelar demonstrasi untuk menentang kudeta militer yang terjadi hampir tiga bulan lalu, di selatan ibu kota Khartou, Sudan. Foto: AFP
ADVERTISEMENT
Warga Sudan merencanakan demonstrasi massal anti-kudeta untuk mendesak akhir kekuasaan militer. Aksi tersebut bertepatan dengan peringatan dua peristiwa bersejarah.
ADVERTISEMENT
Pasukan keamanan telah mengambil tindakan pencegahan sebelum massa membanjiri jalanan. Mereka menutup jembatan yang menghubungkan Khartoum dengan kota-kota lain pada Rabu (6/4/2022).
Pemerintah juga telah mengerahkan tentara ke sekitar istana presiden dan markas militer di ibu kota.
Tanggal 6 April menandai dua peringatan hari bersejarah bagi Sudan. Protes tersebut bertepatan dengan peringatan pemberontakan rakyat tahun 1985. Sekelompok perwira militer menggulingkan mantan Presiden Jaafar Nimeiri yang telah berkuasa bertahun-tahun saat itu.
Pengunjuk rasa berkumpul selama kudeta militer di Khartoum, Sudan, Senin (25/10). Foto: El Tayeb Siddig/REUTERS
Selain itu, 6-7 April turut menandai ulang tahun ketiga awal demonstrasi massa pada 2019. Saat itu warga sipil menggelar protes besar-besaran di luar markas tentara. Aksi itu merupakan puncak dari protes berbulan-bulan.
Mereka menyerukan agar kekuasaan Omar al-Bashir selama tiga dekade berakhir. Para jenderal lantas tunduk pada tekanan dari jalanan. Mereka menyingkirkan Bashir pada 11 April 2019. Namun, pengunjuk rasa tidak kunjung angkat kaki dari perkemahan mereka.
ADVERTISEMENT
Masyarakat menuntut pemerintahan sipil, tetapi gagal meraihnya. Prajurit membubarkan kerumunan warga dengan kekerasan. Setidaknya 128 orang tewas dalam selama aksi kekerasan yang berlangsung hingga berhari-hari pada 2019 lalu.
Para pemimpin sipil dan militer kemudian menyepakati transisi ke pemerintahan sipil. Namun, kudeta terbaru Sudan pada 25 Oktober 2021 membatalkan rencana itu.
Seseorang yang mengenakan bendera Sudan berdiri di depan tumpukan ban yang terbakar selama protes terhadap prospek pemerintahan militer di Khartoum. Foto: MOHAMED NURELDIN ABDALLAH/REUTERS
Demonstrasi hari ini pun muncul seiring Sudan masih bergulat dengan dampak penggulingan tersebut. Panglima militer Abdel Fattah al-Burhan memimpin kudeta terbaru ini.
Langkah itu tidak hanya memukul keras perekonomian Sudan. Tindakan yang diambil Burhan untuk meredam protes anti-kudeta turut merenggut nyawa warga sipil. Kekerasan militer terhadap protes teranyar pun menewaskan sedikitnya 93 orang.
Masyarakat lantas berupaya menempuh jalur damai dengan pihak berwenang. Mereka berharap kudeta serupa tidak akan kembali terulang di masa depan.
Sejumlah demonstran Sudan meneriakkan protes menuntut Presiden Sudan Omar Al-Bashir untuk mundur di luar kementerian pertahanan di Khartoum, Sudan, Senin, (8/4). Foto: REUTERS/STR
Kendati demikian, para pemimpin militer justru mempererat cengkeraman mereka sejak merebut kekuasaan. Pihaknya mengumpulkan para pemimpin sipil terkemuka. Militer kemudian membatalkan segala rencana yang dibuat selama masa transisi.
ADVERTISEMENT
"Kami telah mencoba kemitraan dengan militer, dan gagal, berakhir dengan kudeta ini, dan kami seharusnya tidak melakukan ini (kudeta) lagi," ungkap juru bicara Pasukan Kebebasan dan Perubahan, Jaafar Hassan.
Hassan menambahkan, April merupakan bulan kemenangan bagi Sudan. Selama masa itu, ia ingin masyarakat dapat menemukan jalan keluar.
"Kita harus mengalahkan kudeta. Kita harus keluar dari krisis ini," pungkas Hassan.
Sejumlah demonstran Sudan meneriakkan protes menuntut Presiden Sudan Omar Al-Bashir untuk mundur di luar kementerian pertahanan di Khartoum, Sudan, Senin, (8/4). Foto: REUTERS/STR
Jenderal Burhan mengatakan pada Sabtu (2/4), ia hanya akan menyerahkan kekuasaan kepada otoritas terpilih. Otoritas itu disebut harus jujur dan diterima oleh seluruh rakyat Sudan.
Meski menghadapi tekanan, para aktivis tidak urung menyerukan pengakhiran kekuasaan militer. Mereka mengunggah undangan untuk protes menggunakan tagar ‘Badai 6 April’ dan ‘Gempa bumi 6 April’.
ADVERTISEMENT
Para pengunjuk rasa berharap masyarakat akan turun ke jalanan dalam jumlah besar. Mereka menekankan, masyarakat harus bersatu demi membasmi 'budaya' kudeta.
"Ini adalah hari yang penting jadi kami berharap banyak yang turun ke jalan meskipun panas dan Ramadhan," tegas seorang pengunjuk rasa dari Khartoum, Badwi Bashir.
"Kami hanya ingin mengakhiri kudeta dan prospek kudeta di masa depan," sambung Bashir.