Motif Guru Spiritual di Jember Berendam di Pantai Selatan: dari Buku Mantra

16 Februari 2022 16:49 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Polisi menetapkan Nurhasan, guru spiritual Tunggal Jati Nusantara sebagai tersangka ritual maut di Jember, Rabu (16/2/2022). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Polisi menetapkan Nurhasan, guru spiritual Tunggal Jati Nusantara sebagai tersangka ritual maut di Jember, Rabu (16/2/2022). Foto: Dok. Istimewa
ADVERTISEMENT
Polisi akhirnya menetapkan Nurhasan, guru spiritual kelompok Tunggal Jati Nusantara sebagai tersangka. Nurhasan ditetapkan tersangka karena dianggap lalai, ritualnya berendam di Pantai Payangan Jember menyebabkan 11 orang tewas pada Minggu (13/2) dini hari.
ADVERTISEMENT
Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo mengatakan motif Nurhasan mengajak pengikutnya berendam di Pantai Payangan adalah karena berdasarkan keyakinan dan dari buku mantra gurunya yang sudah meninggal.
"Buku-buku mantra milik tersangka kami sita setelah menggeledah padepokan. Sedangkan, seseorang yang disebut sebagai guru yang mengajari tersangka, tapi sudah lama meninggal dunia," sambung Hery menguraikan.
Nurhasan, guru spiritual ritual maut di Jember ditetapkan sebagai tersangka, Rabu (16/2/2022). Foto: Dok. Istimewa
Dalam buku mantra itu disebutkan ritual berendam malam hari di pantai selatan di antaranya adalah untuk penyembuhan penyakit, menangani masalah ekonomi, masalah keluarga, dan sejenisnya.
Sisi lain Nurhasan, kata Hery, terungkap selama ini menjalankan aktivitas kelompok Tunggal Jati Nusantara lewat cara menggabungkan aspek keagamaan dengan ritual yang diyakini dari buku mantra.
"Penggabungan itu yang masih akan terus kami dalami. Menggabungkan keagamaan dan juga memiliki semacam aliran kepercayaan dari buku berbahasa Jawa berisi mantra dan kidung. Itu akan kita lihat lagi," tutur Hery.
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban terseret arus di Pantai Payangan, Desa Sumberejo, Ambulu, Jember, Jawa Timur, Minggu (13/2/2022). Foto: Wahyu/ANTARA FOTO
Tunggal Jati Nusantara dirintis sejak tahun 2011-2014 usai Nurhasan pulang dari merantau sebagai tenaga kerja di Malaysia.
ADVERTISEMENT
Sejak mempunyai pengikut, Nurhasan menerapkan kegiatan ritual bernuansa klenik. Para pengikutnya juga diminta iuran rutin Rp20 ribu per bulan, dan nominal yang sama diberlakukan saat ada kegiatan di luar padepokan.
"Ritual ditujukan untuk mengatasi masalah dari masing-masing anggota yang latar belakang problemnya berbeda-beda. Ada yang masalah ekonomi, masalah keluarga, masalah penyakit, dan lain-lain," ujar Hery.