Kisah Bunuh Diri Noa Pothoven di Belanda; Antara Eutanasia dan Hoaks

9 Juni 2019 12:17 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Noa Pothoven, 17, gadis Belanda yang bunuh diri karena trauma. Foto: Instagram/noamaestro
zoom-in-whitePerbesar
Noa Pothoven, 17, gadis Belanda yang bunuh diri karena trauma. Foto: Instagram/noamaestro
ADVERTISEMENT
Kehidupan Noa Pothoven dalam beberapa tahun terakhir diliputi rasa trauma yang luar biasa. Jadi korban pelecehan seksual dan perkosaan, gadis 17 tahun ini kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Pothoven akhirnya tiada, namun kematiannya kemudian menimbulkan perdebatan soal eutanasia di Belanda yang dipicu oleh kabar hoaks.
ADVERTISEMENT
Mengutip AFP, Pothoven meninggal dunia pada Minggu pekan lalu. Namanya terkenal setelah dia menulis buku soal peristiwa traumatis yang menderanya.
Dalam buku berjudul "Menang atau Belajar" itu, gadis berambut pirang itu mengaku pernah mengalami penyerangan seksual pada usia 11 tahun. Pada usia 14 tahun, dia kembali mengalami hal yang sama, diperkosa oleh dua pria di lapangan kota Arnhem.
Peristiwa itu dipendamnya karena takut untuk melapor kepada orang tua. "Saya takut dan malu," kata Pothoven dalam wawancara dengan koran lokal De Gelderlander ketika itu.
"Tapi saya menulis buku ini dengan harapan bisa mendobrak stigma. Banyak hal yang harus diperbaiki dan saya harap kisah saya bisa jadi contoh," kata dia lagi.
ADVERTISEMENT
Peristiwa itu membuat kepribadian Pothoven rapuh. Dia menderita anoreksia, depresi berat, dan gangguan stres pascatrauma. Beban mental yang dipikulnya kian berat, hingga akhirnya dua pekan lalu dia memutuskan untuk bunuh diri dengan cara berhenti makan dan minum.
"Dalam waktu 10 hari ke depan, saya akan mati. Saya telah berhenti makan dan minum dan setelah berbagai diskusi...telah diputuskan saya akan direlakan karena kehidupan saya tak tertahankan. Setelah bertahun-tahun, saya kehilangan semangat untuk bertarung," kata Pothoven dalam akun Instagramnya yang kini telah ditutup.
Noa Pothoven, 17, gadis Belanda yang bunuh diri karena trauma. Foto: Instagram/noamaestro
Kabar Hoaks
Kematian Pothoven kemudian ditingkahi oleh berita hoaks yang beredar. Dalam berita yang dilaporkan media internasional, Pothoven meninggal di-eutanasia atau disuntik mati. Kabar ini menjadi tajuk utama di berbagai negara, terutama Italia dan Polandia, menghebohkan Eropa.
ADVERTISEMENT
Bahkan Paus Fransiskus angkat bicara, mengatakan eutanasia Pothoven adalah "kekalahan semua orang".
"Kita diserukan untuk tidak mengabaikan mereka yang menderita, tidak menyerah merawat dan mencintai mereka untuk mengembalikan harapan," kata Paus.
Memang, Belanda sejak 2002 menjadi satu dari sedikit negara di dunia yang memperbolehkan warganya memilih untuk mati. Hal ini diatur undang-undang Belanda untuk warga di atas usia 12 tahun. Namun persyaratannya sangat ketat.
Anak usia hingga 16 tahun butuh izin dari orang tua atau wali untuk memilih eutanasia. Orang tua juga harus dilibatkan dalam proses eutanasia bagi warga usia 16 dan 17 tahun.
Ilustrasi eutanasia. Foto: PhotoLizM
Pelaksanaan eutanasia di Belanda juga hanya boleh atas rekomendasi satu klinik, yaitu Levenseindekliniek atau Klinik Akhir Kehidupan, di kota Den Haag.
ADVERTISEMENT
Media Belanda mengatakan, kabar Pothoven di-eutanasia adalah hoaks. Pothoven pernah meminta Levenseindekliniek untuk eutanasia, tapi ditolak. Hal ini disampaikan oleh Pothoven dalam wawancara dengan De Gelderlander Desember tahun lalu.
"Mereka menganggap saya terlalu muda untuk mati. Mereka meyakini saya harus fokus mendapatkan perawatan trauma terlebih dulu dan menunggu hingga otak saya berkembang penuh. Itu tidak akan terjadi hingga saya berusia 21. Saya sedih, karena saya tidak bisa menunggu selama itu," kata Pothoven ketika itu.
Bantahan yang sama disampaikan Menteri Kesehatan Belanda Hugo de Jonge. "Tidak ada pertanyaan soal eutanasia dalam kasus ini. Keluarga sekarang bisa dengan tenang berduka untuk Noa," kata de Jonge.
De Jonge juga memerintahkan penyelidikan kasus ini untuk mendapatkan keterangan soal penanganan kondisi medis yang diderita Pothoven.
ADVERTISEMENT
Wisata Bunuh Diri
Walau telah dibantah, namun kabar soal eutanasia Pothoven telah mendunia. Kasus ini malah menyuburkan minat masyarakat Eropa untuk bisa bunuh diri secara legal di Belanda.
Setelah kematian Pothoven, klinik Levenseindekliniek kebanjiran permintaan untuk mati dari warga asing. Padahal mereka telah menegaskan bahwa Pothoven tidak meninggal di klinik tersebut.
"Biasanya kami mendapat satu atau dua permintaan dari luar negeri untuk eutanasia. Kemarin (Kamis lalu) ada 25 permintaan," kata juru bicara Levenseindekliniek, Elke Swart, kepada AFP.
Ilustrasi Kota Amsterdam. Foto: Pixabay
Steven Pleiter, direktur pelaksana Levenseindekliniek menyayangkan antusiasme masyarakat untuk mati di kliniknya. Dia mengatakan, kliniknya bukan dibangun untuk menarik "pariwisata eutanasia" ke Belanda.
"Hal itu jelas bukan tujuan kami dan mengapa kami berdiri," kata Pleiter kepada AFP.
ADVERTISEMENT
Proses untuk menuju eutanasia juga tidak mudah. Pasien harus terlebih dulu melalui proses wawancara panjang dengan dokter atau psikolog. Akan dilakukan juga pemeriksaan rekam medis untuk memastikan hal itu telah sesuai dengan hukum.
Dalam tujuh tahun terakhir, Levenseindekliniek menerima 12 ribu hingga 13 ribu permintaan eutanasia. Namun yang dikabulkan hanya 3.500. Hanya sembilan persen di antaranya yang merupakan penderita sakit mental, sisanya penyakit berat dengan peluang hidup tipis seperti kanker.
"Seseorang tidak bisa serta merta datang ke Belanda untuk di-eutanasia. Tidak bisa seperti kau datang Senin lalu kau di-eutanasia pada Jumat," lanjut Pleiter.