Kabar Corona Dunia: Swiss Hadapi Gelombang ke-5; Kasus Pertama Wuhan Terungkap

20 November 2021 6:33 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi globe. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi globe. Foto: Pixabay
ADVERTISEMENT
Dunia masih berjuang menghadapi pandemi corona yang kembali mengganas. Bahkan beberapa negara kembali mencatatkan penambahan kasus penularan yang siginifikan.
ADVERTISEMENT
Salah satunya adalah Swiss. Negara tersebut kini dilanda oleh gelombang ke-5 COVID-19. Begitu juga di Jerman, penambahan kasus membuat pemerintahnya mengambil kebijakan lockdown bagi warga yang belum menerima vaksin.
Dua kabar tersebut menjadi bagian dari kabar corona dunia pada Kamis dan Jumat (19/11). Berikut kumparan rangkum beberapa kabar:
Sejumlah warga berbelanja di Schilliger Garden Centre pada hari pertama pelonggaran lockdown di Gland, Swiss, Senin (27/4). Foto: REUTERS/Denis Balibouse
Swiss Hadapi Gelombang Kelima COVID-19
Kabar tak sedap datang dari Swiss. Kasus corona di negara tersebut meningkat empat kali lipat dalam sebulan. Pada Kamis (18/11) kasus corona di sana bertambah lebih dari 6.000 kasus. Total kasusnya, mencapai 931.000.
Meski begitu Swiss belum berencana untuk menerapkan pembatasan baru bagi warganya. Menteri Kesehatan Swiss Alain Barset menyebut negaranya berada di gelombang kelima pandemi corona.
ADVERTISEMENT
"Kami jelas menghadapi gelombang kelima," kata Alain Berset saat konferensi pers dikutip dari AFP, Jumat (19/11).
Di sisi lain, upaya vaksinasi di Swiss berjalan lambat. Pada 23 April, negara itu baru memvaksin 10 persen populasinya. Jumlah tersebut lalu meningkat dalam tiga bulan menjadi 50 persen.
Kanselir Jerman Angela Merkel berbicara selama konferensi pers tentang perkembangan terkini di Afghanistan, di Kanselir di Berlin, Jerman, Senin (16/8). Foto: Odd Andersen/Pool via REUTERS
Jerman Lockdown Warga yang Belum Divaksin
Jerman kembali mengambil kebijakan sulit untuk menekan penularan virus corona. Jerman, resmi menerapkan lockdown untuk warga yang belum divaksinasi.
Jerman menghadapi peningkatan kasus corona beberapa waktu belakangan. Kasus baru di Jerman melonjak menjadi 65.371 yang merupakan jumlah tertinggi sepanjang pandemi.
Dikutip dari AFP, Kanselir Jerman, Angla Merkel, menyebut situasi saat ini begitu dramatis. Menurut dia kenaikan eksponensial kasus corona dan keterisian tempat tidur ICU harus segera dihentikan.
ADVERTISEMENT
Kebijakan lockdown yang diterapkan Jerman membuat mereka yang belum divaksin harus menunjukkan hasil tes negatif corona saat menggunakan transportasi umum atau pergi ke kantor.
Tidak hanya itu, mereka yang belum divaksin juga akan dilarang ke ruang publik. Hal ini berlaku untuk yang tinggal wilayah dengan tingkat keterisian rawat inap rumah sakit lebih dari tiga pasien per 100.000 orang. Aturan yang disebut 2G itu akan berlaku untuk acara besar serta fasilitas rekreasi dan olahraga.
Sementara daerah dengan tingkat rawat inap lebih dari enam harus menerapkan aturan '2G plus', yaitu peserta perlu diuji serta divaksinasi. Sedangkan daerah dengan tingkat di atas sembilan harus menerapkan tindakan tambahan seperti pembatasan kontak.
Petugas sekolah membersihkan sekolah dasar di Le Cannet jelang pembukaan sekolah setelah liburan musim panas di Prancis. Foto: ERIC GAILLARD/REUTERS
Prancis Belum Akan Lockdown Warga yang Belum Vaksin
ADVERTISEMENT
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Prancis tidak perlu memberlakukan lockdown pada orang yang tidak divaksinasi. Kebijakan ini berbeda dengan negara-negara di eropa lainnya yang memilih me-lockdown warganya yang belum vaksin.
"Negara-negara yang mengunci yang tidak divaksinasi adalah mereka yang belum memberlakukan izin (kesehatan). Oleh karena itu langkah ini tidak diperlukan di Prancis," kata Macron dikutip dari Reuters, Jumat (19/11).
Prancis menerapkan aturan bukti vaksinasi atau tes negatif untuk warga yang ingin pergi ke restoran, kafe, bioskop, naik kereta jarak jauh dan lainnya.
Lebih lanjut, Macron mengatakan dia masih menunggu panduan dari otoritas kesehatan tentang apakah dosis ketiga (booster) harus diperpanjang untuk semua yang memenuhi syarat untuk vaksin.
"Jika terbukti bahwa dosis ketiga efektif dan diperlukan untuk masyarakat luas, maka jelas kami akan memasukkannya ke dalam izin kesehatan," kata Macron.
Suasana Wuhan, China ketika satu tahun virus corona merebak. Foto: Ng Han Guan/AP PHOTO
Kasus COVID-19 Pertama di Wuhan Berhasil Terungkap
ADVERTISEMENT
Riset yang dipublikasi jurnal Science pada Kamis (18/11) menyimpulkan bahwa seorang pegawai perempuan di toko seafood di Wuhan, China, merupakan kasus COVID-19 pertama pada 11 Desember 2019.
Virus corona SARS-CoV-2 terbukti berasal dari kelelawar, hingga kini para peneliti masih berdebat soal bagaimana ia berpindah dari hewan ke manusia.
Sebelumnya, tim penelitian dari WHO melaporkan kasus COVID-19 pertama merupakan seorang pria berusia 41 tahun yang bekerja sebagai akuntan. Ia dilaporkan jatuh sakit pada 8 Desember 2019. Masalahnya, pria tersebut tinggal 30 km dari pasar basah Huanan, Wuhan, dan tidak ada hubungannya dengan tempat yang diduga kuat sebagai ground zero virus corona tersebut.
Di sisi lain, dalam laporan terbaru di jurnal Science, seorang ahli virus dari University of Arizona bernama Michael Worobey menemukan bahwa pria tersebut bukanlah kasus pertama COVID-19.
ADVERTISEMENT
Worobey menyebut, pria itu mengatakan, kepada media bahwa ia hanya sakit gigi pada tanggal 8 Desember 2019, sedangkan gejala COVID-19 yang pria tersebut alami baru muncul pada 16 Desember 2019.
"Ketika diwawancarai, dia melaporkan bahwa gejala COVID-19-nya dimulai dengan demam pada 16 Desember; Penyakit 8 Desember adalah masalah gigi yang berhubungan dengan gigi susu yang tertinggal hingga dewasa. Dia percaya bahwa dia mungkin telah terinfeksi di rumah sakit (mungkin selama keadaan darurat giginya) atau di kereta bawah tanah selama perjalanannya," jelas Worobey dalam laporannya.
Worobey menegaskan bahwa laporannya didukung oleh rekam medis dan berbagai laporan ilmiah terkait pria tersebut yang mencatat bahwa ia mulai merasakan gejala COVID-19 pada 16 Desember 2019 dan dirawat di rumah sakit pada 22 Desember 2019.
ADVERTISEMENT