Gerakan #2019GantiPresiden Semakin Populer

3 September 2018 17:02 WIB
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Spanduk 2019 ganti Presiden di sekitar Monas (Foto: Raga Imam/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Spanduk 2019 ganti Presiden di sekitar Monas (Foto: Raga Imam/kumparan)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Hasil survei nasional lembaga survei Y-Publica menunjukkan gerakan #2019GantiPresiden semakin populer.
ADVERTISEMENT
Direktur Eksekutif Y-Publica Rudi Hartono membeberkan, sejak gerakan #2019GantiPresiden itu dibumikan pada awal 2019, hanya 53 persen responden yang tahu.
Tapi itu dulu, kini mereka yang tahu soal gerakan #2019GantiPresiden telah naik pesat. Kenaikan sampai 16,9 persen.
"Hampir diketahui responden 69,9 persen gerakan ini makin populer diketahui di masyarakat," kata Rudi dalam pemaparan survei di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta, Senin (3/9).
Meski gerakan ini semakin menggaung, Rudi menyebut, sebagian besar publik tidak setuju dengan gerakan #2019GantiPresiden.
"(Awal dibentuk) Dulu (angka) tidak setuju 67 persen. Sekarang meningkat 68,6 persen," jelasnya.
Pasalnya, diketahui hanya 8,4 persen gerakan tersebut sebagai ungkapan ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
"Perlu diketahui masyarakat cukup kritis, 28,3 persen menganggap itu gerakan politik. Karena kita tahu tokoh-tokoh di gerakan ini memiliki afiliasi tertentu. 25,0 persen menganggap kampanye dini, kampanye sebelum pemilu. Bahkan 13,6 persen (responden memandang) gerakan ini mengarah ke makar, karena ada seruan mengganti presiden. Dan hanya 8,4 persen yang menganggap ini gerakan ketidakpuasan kepada pemerintah," kata Rudi.
ADVERTISEMENT
Survei Y-Publica ini berlangsung dari tanggal 13 hingga 23 Agustus 2018, dengan melibatkan 1.200 responden yang dipilih secara acak bertingkat, margin of error (MoE) 2,98 persen, dengan kepercayaan 95 persen.
Gerakan #2019GantiPresiden sendiri dimotori sejumlah politikus, antara lain Mardani Alisera dari PKS.