Daftar Sejumlah Daerah yang Teriak Kehabisan Vaksin Corona

23 Juli 2021 7:17 WIB
·
waktu baca 9 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Vaksin Corona pada Anak. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Vaksin Corona pada Anak. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Vaksinasi terus dilakukan pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran virus corona. Namun, ada sejumlah daerah yang kehabisan vaksin.
ADVERTISEMENT
Berikut kumparan rangkum daerah mana saja yang kehabisan stok vaksin corona;
Kendari
Dinas Kesehatan Kota Kendari menghentikan sementara vaksinasi COVID-19 tahap pertama. Hal ini dikarenakan sisa stok vaksin yang disediakan Pemkot Kendari kian menipis.
Olehnya itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kendari, dr Rahminingrum mengatakan dosis vaksin yang tersisa hanya diperuntukkan bagi vaksinasi COVID-19 tahap 2.
"Stok dosis vaksin yang tersisa, akan digunakan hanya untuk vaksin tahap 2 dan vaksin pertama yang darurat, seperti masyarakat yang membutuhkan sertifikat vaksin untuk keperluan perjalanan, dan wajib melampirkan bukti tiket dan sebagainya," ujar Rahminingrum, pada Kamis (15/07).
Petugas mengangkut vaksin corona Sinovac setibanya di Bandar Udara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (5/1). Foto: Jojon/ANTARA FOTO
Ia lalu membeberkan, jumlah vaksin yang tersedia di Dinkes Kota Kendari hanya tersisa sebanyak 2.400 dosis. Namun meski begitu, menurut Rahminingrum masih ada 12.000 dosis vaksin yang tersebar di 15 Puskesmas di kendari.
ADVERTISEMENT
Ia pun memastikan bahwa seluruh warga Kota Kendari akan mendapatkan vaksin secara gratis, jika sudah mendapatkan tambahan stok dosis vaksin.
"Semuanya akan mendapatkan vaksin secara gratis, tapi untuk sekarang, stok yang tersisa hanya untuk vaksin tahap dua. Jika sudah mendapatkan tambahan stok vaksin, kami akan membuka kembali layanan vaksin tahap satu," ungkap Rahminingrum.
Ilustrasi vaksin corona AstraZeneca. Foto: Yves Herman/REUTERS
Manado
Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 dosis pertama di Sulawesi Utara, dihentikan sementara. Pelayanan vaksinasi mulai akhir pekan ini, hanya fokus diberikan untuk suntikan dosis kedua.
Penghentian sementara pelaksanaan suntik vaksin corona dosis pertama di Sulawesi Utara, juga telah diumumkan oleh masing-masing Pemerintah Kabupaten dan Kota.
Hal ini sendiri, disebabkan oleh pasokan vaksin dari pemerintah pusat selang dua pekan terakhir yang berkurang. Tercatat, Sulawesi Utara tinggal mendapatkan pasokan 55 ribu dosis vaksin corona dari pemerintah pusat.
ADVERTISEMENT
Juru bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Sulawesi Utara, dr Steaven Dandel mengatakan, melambatnya vaksinasi memang disebabkan adanya kekurangan stok vaksin corona.
Menurutnya, dengan pasokan vaksin corona dari pemerintah pusat yang tidak lebih dari 55 ribu dosis selama dua pekan terakhir, telah menimbulkan ketimpangan di lapangan, di mana setiap harinya, jumlah vaksin yang disuntikkan bisa mencapai 25 ribu dosis.
"Jadi, untuk satu hingga dua pekan ke depan, yang akan dilayani adalah dosis kedua dulu," kata Dandel.
Batam
Stok vaksin COVID-19 di Kota Batam, Kepulauan Riau dinyatakan habis pada Senin (5/7/2021), atau sehari lebih cepat dari perkiraan.
Menyikapi habisnya stok vaksin, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan pihaknya sudah meminta pasokan vaksin ke Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
ADVERTISEMENT
“Saat ini vaksin di Batam sudah habis,” ujar Didi, Senin sore.
Ia menyampaikan Kota Batam hanya mendapat kiriman vaksin sebanyak 1.000 Multi Dose Vial (MDV), sedangkan jumlah yang akan divaksin lebih dari itu.
Pihaknya pesimis jika kondisi tersebut masih seperti ini, maka target vaksinasi COVID-19 tidak tercapai 100 persen pada akhir Juli mendatang.
”Hanya dapat 1.000 MDV saja. Sehari habis itu," katanya.
Seorang pelajar memperlihatkan kartu vaksinasi usai mendapatkan suntikkan vaksin COVID-19 di SMAN 1 Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (14/7). Foto: Rony Muharrman/ANTARA FOTO

Pemprov Kepri 3 Kali Surati Kemenkes Minta Tambahan Vaksin

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sudah tiga kali menyurati Kementerian Kesehatan untuk meminta penambahan vaksin COVID-19 karena stok di daerah sudah habis.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Mochammad Bisri menyampaikan pihaknya sejak sepekan yang lalu telah mengajukan tambahan 60 ribu vial atau 600 ribu dosis vaksin ke Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.
ADVERTISEMENT
"Rencananya baru mau dikirim 1.000 vial saja. Sementara kebutuhan kita sangat besar," katanya, Rabu (21/7).
Akibat pasokan vaksin sudah habis, saat ini vaksinasi COVID-19 di seluruh kabupaten/kota dihentikan sementara sampai batas waktu yang belum ditentukan.
"Paling tersisa berapa dosis vaksin lagi. Silakan masyarakat keliling ke puskesmas-puskesmas, kalau memang masih ada," ujar Bisri.
Bisri mengaku heran mengapa terjadi keterlambatan distribusi vaksin dari pusat ke daerah, padahal Presiden RI Joko Widodo menyatakan stok vaksin nasional saat ini sekitar 100 juta lebih dosis vaksin.
"Tapi kenapa pendistribusian ke daerah terhambat. Ini yang jadi pertanyaan kita," ucapnya.
Lanjut dia, vaksin memang menjadi harapan Pemprov Kepri demi mengejar target 70 persen vaksinasi pada akhir Juli 2021, sehingga akan terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan Satgas Penanganan COVID-19 Kepri, hingga 19 Juli 2021 capaian vaksinasi COVID-19 sebanyak 870.906 orang atau 63,41 persen. Ditargetkan hingga 30 Juli 2021 vaksinasi sudah mencapai 70 persen.
Sementara, untuk vaksinasi COVID-19 usia 12-17 tahun mencapai 30,91 persen atau sebanyak 64.190 orang. Target kita sampai dengan tanggal 23 Juli 2021 mencapai 144.080 orang.
Vaksinator menyiapkan vaksin COVID-19 Sinovac dosis kedua sebelum disuntikan ke tenaga kesehatan saat Gebyar Vaksin COVID-19 di ITB, Bandung. Foto: M Agung Rajasa/ANTARA FOTO
Sumbar
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat menyebutkan bahwa stok vaksin telah habis disalurkan ke berbagai daerah. Jumlah terakhir yang didistribusikan sebanyak 903.710 dosis vaksin.
Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Provinsi Sumatera Barat Hefdi mengatakan dari rapat terakhir bersama Gubernur Mahyeldi, Dinkes Sumatera Barat segera mengirimkan surat permintaan penambahan vaksin kepada menteri kesehatan sebanyak 150.000 dosis vaksin.
ADVERTISEMENT
"Beberapa pekan ini, animo masyarakat untuk ikut vaksinasi cukup tinggi. Jadi stok pun dari hari ke hari terus menipis. Kini untuk posisi di provinsi stok habis," ujarnya, Sabtu 17 Juli 2021.
Hefdi menyebutkan di satu sisi Gubernur Mahyeldi sangat senang melihat adanya kesadaran masyarakat untuk ikut vaksinasi, yang ternyata hampir merata di seluruh daerah di Sumatera Barat.
Begitu juga kepada tenaga kesehatan, yang memiliki peranan penting dalam suksesnya vaksinasi.
"Termasuk juga seluruh pihak yang telah ikut mensosialisasikan dan ikut terlibat program vaksinasi," katanya.
Rincian Vaksin yang Diterima
Menurut Hefdi vaksin yang masuk ke Dinkes Provinsi Sumatera Barat selama ini adalah dosis Sinovac dan Astrazeneca.
Rinciannya, pada 5 Januari 2021 lalu sebanyak 36.920 dosis. Lalu pada 26 Januari 2021 (29.880 dosis), 22 Februari 2021 (99.700 dosis), 16 Maret 2021 (153.510 dosis), 8 April 2021 (20.000 dosis), dan 23 Mei 2021 (12.300 dosis).
ADVERTISEMENT
Kemudian, 11 Juni 2021 (800 dosis), 17 Juni 2021 (5.300 dosis), 24 Juni 2021 (98.000 dosis), 1 Juli 2021 (7.800 dosis), 3 Juli 2021 (600 dosis), 7 Juli 2021 (52.200 dosis), 10 Juli 2021 (8.500 dosis), 14 Juli 2021 (64.800 dosis), 15 Juli 2021 (8.300 dosis), 16 Juli 2021 (7.000 dosis).
Sementara vaksin COVID-19 Astrazeneca yang masuk pada 26 Maret 2021 ada sebanyak 500 dosis, 5 Mei 2021 (5.600 dosis), 4 Juni 2021 (500 dosis), 20 Juni 2021 (15.200 dosis).
Selanjutnya vaksin masuk melalui perusahaan (sinovac), PT. IGM sebanyak 122.900 dosis, PT.Enseval (153.400 dosis). Jadi total vaksin yang sudah masuk ke Dinkes Provinsi Sumbar sudah mencapai 903.710 dosis.
"Jadi semuanya sudah terpakai, sehingga sekarang tidak ada lagi stok vaksin di Dinas Kesehatan Sumatera Barat,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Sementara, permintaan kabupaten kota yang sudah masuk saat ini, yakni Dinkes Kota Payakumbuh sebanyak 12.000 dosis, Dinkes Kota Padang (70.000 dosis) dan Dinkes Kabupaten Mentawai (10.000 dosis).
“Tiga daerah ini sangat membutuhkan vaksin karena sedang yang melaksanakan vaksinasi massal,” ujarnya.
Hefdi juga mengungkapkan, secara keseluruhan, total sasaran vaksinasi di Sumbar sebanyak 4.408.509 jiwa. Dengan rincian, untuk SDM Kesehatan sebanyak 32.391 orang, petugas publik (400.274 orang), Lansia (489.575 orang), masyarakat rentan (2.896.546 orang) dan remaja (5879.723 orang).
Karimun
Vaksinasi Covid-19 di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau terhenti mulai Senin (19/7).
Penyebab terhentinya vaksinasi adalah tidak adanya stok vaksin. Kondisi serupa juga pernah terjadi di Kota Batam, beberapa waktu lalu.
"Vaksinasi kita setop dulu, karena vaksin yang mau kita berikan stoknya habis, mulai hari ini tidak ada penyuntikan vaksin di Puskesmas maupun posko vaksin," kata Kepala Dinas Kesehatan Karimun, Rachmadi, saat dikonfirmasi Batamnews, Senin siang.
ADVERTISEMENT
Menyikapi kekosongan vaksin, Pemkab Karimun sudah meminta ke Pemprov Kepri agar vaksinasi dapat didistribusikan.
Hanya saja, diketahui bahwa Pemprov Kepri juga tengah kehabisan stok vaksin, dan juga sedang menunggu kiriman dari pemerintah pusat.
Saat ini untuk persediaan stok vaksin hanya ada di posko vaksin Polres Karimun, namun jumlahnya terbatas.
"Di Polres mungkin masih ada, tapi itu juga tidak banyak lagi," ujarnya.
Sejauh ini, Pemkab Karimun telah melakukan vaksinasi pada masyarakat sebanyak 68,5 persen untuk dewasa, dan sekitar 30 persen untuk usia remaja.
"Kalau vaksin putus dan lambat pengirimannya, gimana mau mempercepat vaksinasi," ucap Rachmadi.
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Dado Ruvic/REUTERS
Sumsel
Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Sumsel) mengkhawatirkan Sumsel tidak mencapai herd Immunity atau kekebalan komunal sesuai target hingga awal 2022. Sebab, stok vaksin di gudang maupun di berbagai fasilitas kesehatan (faskes) juga sudah menyatakan habis.
ADVERTISEMENT
Kepala Dinkes Sumsel, Lesty Nuraini, mengatakan pihaknya khawatir karena vaksin hanya ada dosis kedua, dan dosis vaksin yang disimpan juga sudah tidak ada, dengan begitu stok vaksin Sumsel kosong.
“Pemprov Sumsel tengah gencar untuk mencapai target vaksinasi 70 persen masyarakat hingga mendapatkan kekebalan komunal, namun stok sudah habis,” katanya.
Lesty bilang, sejak Januari hingga Juli 2021 pihaknya telah menyalurkan hampir semua yakni 1,6 juta dosis vaksin ke masyarakat dan hanya tersisa dosis tahap kedua sekitar 100.00 dosis. Sumsel harusnya mendapatkan 150.000 vial per bulan. Namun kenyataan sampai saat ini hanya menerima 30.000 vial per bulan.
"Dengan keadaan ini Gubernur Sumsel telah menyurati Kemenkes RI untuk meminta vaksin tambahan,” katanya.
Sementara pihaknya telah membuka vaksinasi seluas-luasnya tanpa segmentasi instansi atau usia ditambah lagi jumlah Faskes mencapai 443 lokasi sehingga masyarakat dapat menentukan di mana akan melakukan vaksinasi.
ADVERTISEMENT
"Vaksinator juga kita tambah tapi kembali lagi saat ini tergantung ketersediaan vaksinnya,” katanya.
Warga melakukan pendaftaran sebelum menjalani vaksinasi COVID-19 di Youth Center Sport Jabar Arcamanik, Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/7). Foto: M Agung Rajasa/ANTARA FOTO
Jabar
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan kini ketersediaan vaksin di Pemprov Jabar dalam kondisi kosong. Menurut dia, jatah vaksin yang didapat pemerintah pusat sebanyak 9 juta dosis itu, sebagian besar sudah digunakan.
"Jadi dari 9 juta vaksin yang didapat dari pemerintah, Jabar 74 persen sudah selesai, kemudian banyak yang minta vaksin lagi, tapi masih kosong, baru datang bulan Agustus," ujar Ridwan Kamil saat konferensi pers virtual pada 21 Juli yang kumparan lihat di akun YouTube Pemprov Jabar, Kamis (22/7).
"Jadi kalau ada yang nanya. memang dari pusat nggak ada, baru datang bulan Agustus sehingga kita akan menggunakan sisa 26 persen vaksin ini tidak untuk dosis kedua, tapi untuk memperluas wilayah vaksinasi antara lain di sekolah kemudian vaksin keliling," lanjut Ridwan Kamil.
ADVERTISEMENT
Ridwan Kamil tidak merincikan data dan angka dari 9 juta jatah vaksin itu.
Sasaran vaksin COVID-19 di Jawa Barat. Foto: Instagram/Pikobar Jabar
Namun sasaran vaksinasi di Jabar sejatinya tidak hanya menggunakan jatah vaksinasi yang diturunkan dari pemerintah pusat ke daerah.
Dalam beberapa kesempatan misalnya, Bandung atau wilayah Jabar lainnya itu menjadi lokasi serbuan vaksinasi yang digagas Kemenkes, TNI dan Polri.
Data yang ditampilkan oleh Pikobar (situs pemantau COVID-19 Jabar), per 21 Juli, sasaran masyarakat yang divaksinasi di Jabar mencapai 37.907.814. Total jumlah penduduk di Jabar mencapai 50 juta.
Dari jumlah sasaran itu yang sudah menerima vaksinasi dosis pertama baru 13,52 persen. Sedangkan yang sudah menerima vaksinasi dosis kedua ada 6,13 persen.
Jika dibandingkan dengan DKI Jakarta, tentunya hal itu akan sangat jauh. Sasaran vaksinasi di DKI Jakarta mencapai 8.815.157 orang hingga Desember 2021.
ADVERTISEMENT
Namun, hingga per 21 Juli 2021, jumlah orang yang sudah divaksin dosis pertama di DKI Jakarta mencapai 6.652.011 orang. Dengan kata lain sudah mencapai 75.5 persen dari target.
Adapun jumlah penerima vaksin dosis kedua di DKI Jakarta per 21 Juli sudah mencapai 2.021.780 atau 22,9 persen dari target.