Kata Ahli soal Bahaya Obesitas pada Kesehatan Fisik dan Mental Anak

9 Maret 2022 18:53 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anak obesitas.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak obesitas. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Obesitas menjadi salah satu persoalan yang rentan dialami anak. Penyebab umumnya karena tidak bisa menyeimbangkan antara asupan dan keluarnya energi. Bahkan, pada sejumlah kasus, anak rentan mengalami berbagai penyakit lainnya saat obesitas.
ADVERTISEMENT
Ya Moms, obesitas adalah suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh yang berlebihan. Oleh karena itu, kita harus mengantisipasi sejak dini agar anak tidak sampai mengalami obesitas. Sebab, obesitas tak hanya berpengaruh kepada kesehatan fisik, tapi juga bisa berpengaruh pada kesehatan mental.
Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Winra Pratita, SpA, menjelaskan ciri-ciri anak yang mengalami obesitas. Menurutnya, gejala klinis yang terlihat anak wajah membulat, pipi tembam, dagu rangkap, leher tampak pendek, dan terdapat acanthosis nigricans (bercak kehitaman di belakang leher).
Kemudian pada dadanya terlihat membusung dengan payudara membesar dan napas berbunyi atau mengi. Pada perut terlihat membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat.
“Pada ekstremitas sering juga tungkai berbentuk X akibat kenaikan berat badan yang sangat berlebihan dalam waktu yang singkat. Kemudian gerakan panggul terbatas, dan pada sistem reproduksi laki-laki penis tampak kecil,” jelas dr. Winra dalam webinar Hari Obesitas Sedunia seperti dikutip dari situs resmi Kemenkes RI.
ADVERTISEMENT
Namun, Ibu perlu melakukan pemeriksaan antropometri untuk mengetahui kondisi lebih lanjut terkait obesitas yang dialami anaknya. Pemeriksaan tersebut mencakup berat badan, panjang badan atau tinggi sesuai indeks massa tubuh.

Kata Ahli soal Anak Obesitas Rentan Komplikasi

Ilustrasi anak obesitas. Foto: Shutterstock
Anak yang mengalami obesitas dan tidak segera ditangani ternyata dapat membahayakan kesehatannya, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bahkan, anak bisa lebih cepat depresi dan memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah.
Pada bagian paru-paru misalnya, anak kemungkinan bisa mengalami asma atau sleep apnea pada saat tidur. Sleep apnea merupakan gangguan tidur yang menyebabkan pernapasan seseorang berhenti sementara selama beberapa kali. Hal ini bisa ditandai dengan mengorok saat tidur.
Di bagian jantung, kemungkinan bisa terjadi kelainan jantung, atau kolesterolnya tinggi, atau bisa juga peningkatan tekanan darah. Pada bagian hati, terjadi timbunan lemak, dan pada perut anak bisa mengalami gerd.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya pada pankreas bisa berisiko diabetes tipe 2. Pada lutut bisa terjadi artritis atau nyeri pada sendi.
“Dan bisa juga kakinya bengkok akibat penimbunan berat badan yang sangat masif dalam waktu yang sangat singkat. Tak hanya itu, bagian reproduksinya biasanya kalau anak perempuan bisa jadi menstruasinya tidak teratur atau mungkin lebih cepat daripada kawan-kawannya. Itu yang harus kita hindari,” ungkap dr. Winra.

Cara Cegah Obesitas pada Anak

Selain obesitas, minuman manis seperti soft drink dapat merusak gigi anak Foto: Shutterstock
Tak perlu panik, Moms, karena obesitas sebenarnya bisa dicegah sejak dini. Ibu disarankan memberikan ASI eksklusif pada bayi hingga berusia 6 bulan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian MPASI yang bergizi. Orang tua juga didorong untuk untuk menghindari memberikan minuman manis pada anak.
Hindari juga memberikan jus dengan tambahan gula dan kental manis yang berlebihan. Setiap anggota keluarga harus dibiasakan makan bersama di meja, dan televisi dimatikan selama makan berlangsung.
ADVERTISEMENT
“Yang harus diperhatikan, orang tua tidak boleh membatasi jumlah makan tapi memastikan bahwa makanan yang tersedia sehat serta disertai buah dan sayuran. Makanan selingan hanya diberikan sebanyak 2 kali dan hanya menawarkan air putih bila haus bukan minuman manis,” ucap dr. Winra
Pastikan juga Anda memberikan camilan yang sehat dan rajin mengajak anak aktif bergerak. Daripada menonton TV, lebih baik ajak anak bermain di rumah. Orang tua juga harus menjadi contoh yang baik agar anak bisa menjaga pola hidup sehat dan terhindar dari obesitas.
“Hargai selera makan anak, jadi anak harus diberi makanan sesuai rasa lapar dan rasa kenyang anak. Tidak memaksakan harus habis satu porsi,” tutup dr Winra.