Indonesia Ngebet Jalin Kerja Sama Perdagangan Bebas dengan Korsel

16 Oktober 2019 16:21 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-wha (tengah) saat pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi (kanan) di Jakarta. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-wha (tengah) saat pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi (kanan) di Jakarta. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
ADVERTISEMENT
Kementerian Perdagangan baru saja menyelesaikan substansial perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea Selatan (IK-CEPA). Dengan begitu, penerapan dari perjanjian ini diharapkan berlaku pada awal 2020.
ADVERTISEMENT
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita membeberkan, sejumlah produk dalam negeri yang bebas bea masuk ke Korea Selatan dari perjanjian ini.
“Ada beberapa yang kota masukkan dalam komitmen kita, tapi jangan lupa kalau kita minta mereka buka pasar ekspor. Beberapa produk kita yang masuk adalah bir bintang, produk perikanan, pertanian, sawit, teh, dan kopi,” katanya saat ditemui di ICE BSD, Tangerang, Rabu (16/10).
Sementara, lanjut Enggar, pemerintah juga akan melonggarkan keran impor produk Korea Selatan. Beberapa diantaranya adalah produk baja hingga tekstil. Menurut Enggar, pihaknya sepakat untuk memberlakukan bebas tarif terhadap produk baja dan tekstil lantaran akan memancing investasi yang lebih besar ke dalam negeri.
“Produk steel baja itu nantinya akan dipakai oleh industri otomotif yang juga akan diinvestasikan di Indonesia,” katanya.
ADVERTISEMENT
Jenis investasi yang dimaksud oleh Enggar ini adalah relokasi pabrik mobil Hyundai dan Lotte Chemical ke Indonesia. Ke depan, setelah kesepakatan ini terjalin, pihaknya berharap mampu menarik sejumlah merek lain seperti Samsung dan LG untuk membangun pabriknya ke dalam negeri.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Indonesia, Iman Pambagyo menambahkan, selain akan mengembangkan mobil listrik, kerja sama dengan Korea Selatan ini akan menghasilkan produk mobil hidrogen.
“Jadi mereka jadikan basis produksi di sini, nanti pasarnya itu global. Jangka panjang mereka (Hyundai) akan bawa teknologi Hidrogen, tahap pertama memang mereka akan kembangkan electric car di Indonesia, jangka panjang nanti hidrogen based. Bukan lagi listrik atau minyak bumi biasa,” katanya.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di acara Trade Expo Indonesia 2019. Foto: Elsa Olivia/kumparan
Setelah perjanjian ini berlaku, diharapkan nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 30 miliar pada tahun 2022. Sementara untuk nilai ekspor produk dalam negeri ke Korea Selatan ditarget meningkat 20 persen. Saat ini pihaknya sedang melakukan proses terjemahan perjanjian dalam dua bahasa.
ADVERTISEMENT
“Kemudian selanjutnya diharapkan bisa lakukan legal scraping, proses ratifikasi, dan entry to force di tahun depan,” tuturnya.
Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, Korea Selatan merupakan negara tujuan ekspor dan sumber impor ke-6 terbesar bagi Indonesia dengan total nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 18,62 miliar. Total ekspor Indonesia ke Korea Selatan tercatat sebesar USD 9,54 miliar dan total impor Indonesia dari Korea Selatan tercatat sebesar USD 9,08 miliar. Dengan nilai tersebut Indonesia surplus sebesar USD 460 juta.